<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Eureka</title>
	<atom:link href="http://eureka.blogs.mu/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://eureka.blogs.mu</link>
	<description>Another Path to Awareness</description>
	<pubDate>Fri, 02 Oct 2009 05:17:28 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>How &#8230;</title>
		<link>http://eureka.blogs.mu/2009/06/02/how/</link>
		<comments>http://eureka.blogs.mu/2009/06/02/how/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 22:30:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eureka</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Self Improvement]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eureka.blogs.mu/?p=1406</guid>
		<description><![CDATA[Thinking &#8230; &#38; do it &#8230;, How ?
Thinking good, honest &#38; do it wisely, it will lead us naturally to a better direction &#8230; [eureka, Saturday - May 30, 2009, 02.15]
Thinking good is well connected - enrichment

Honest is our possibilities - capabilities
And do anything wisely is proportional - justice
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Thinking &#8230; &amp; do it &#8230;, How ?</p>
<p><span id="more-1406"></span>Thinking good, honest &amp; do it wisely, it will lead us naturally to a better direction &#8230; [<em><strong>eureka</strong></em>, Saturday - May 30, 2009, 02.15]</p>
<blockquote><p><em>Thinking good is well connected - enrichment<br />
</em></p>
<p><em>Honest is our possibilities - capabilities</em></p>
<p><em>And do anything wisely is proportional - justice</em></p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eureka.blogs.mu/2009/06/02/how/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Well Defined</title>
		<link>http://eureka.blogs.mu/2009/04/18/well-defined/</link>
		<comments>http://eureka.blogs.mu/2009/04/18/well-defined/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Apr 2009 02:28:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eureka</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Philosophy]]></category>

		<category><![CDATA[awareness]]></category>

		<category><![CDATA[boundaries]]></category>

		<category><![CDATA[boundary]]></category>

		<category><![CDATA[briefing]]></category>

		<category><![CDATA[briefly]]></category>

		<category><![CDATA[defined]]></category>

		<category><![CDATA[definition]]></category>

		<category><![CDATA[description]]></category>

		<category><![CDATA[descriptive]]></category>

		<category><![CDATA[enlightenment]]></category>

		<category><![CDATA[focusing]]></category>

		<category><![CDATA[inconsistency]]></category>

		<category><![CDATA[inkonsistensi]]></category>

		<category><![CDATA[limitation]]></category>

		<category><![CDATA[pembatasan]]></category>

		<category><![CDATA[pencerahan]]></category>

		<category><![CDATA[pendefinisian]]></category>

		<category><![CDATA[pendeskripsian]]></category>

		<category><![CDATA[pengertian]]></category>

		<category><![CDATA[penjabaran]]></category>

		<category><![CDATA[penjelasan]]></category>

		<category><![CDATA[perluasan]]></category>

		<category><![CDATA[Relevancy]]></category>

		<category><![CDATA[relevansi]]></category>

		<category><![CDATA[well]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://seremonia.wordpress.com/?p=1002</guid>
		<description><![CDATA[Ketika seseorang mendefinisikan sesuatu, sebenarnya itu adalah mengkaitkan sesuatu yang didefinisikan dengan kenyataan lainnya yang dianggap memiliki kesesuaian dengan yang ada pada yang didefinisikan. Tidak mungkin anda mendefinisikan (menjelaskan) sesuatu dengan memakai alat bantu (bahasa atau sistem simbolik lainnya) yang sekecil berapa persenpun tidak ada kesesuaian dengan yang didefinisikan.
Lalu adakah definisi yang baik ? Tentu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify">Ketika seseorang mendefinisikan sesuatu, sebenarnya itu adalah mengkaitkan sesuatu yang didefinisikan dengan kenyataan lainnya yang dianggap memiliki kesesuaian dengan yang ada pada yang didefinisikan. Tidak mungkin anda mendefinisikan (menjelaskan) sesuatu dengan memakai alat bantu (bahasa atau sistem simbolik lainnya) yang sekecil berapa persenpun tidak ada kesesuaian dengan yang didefinisikan.</p>
<p style="text-align:justify">Lalu adakah definisi yang baik ? Tentu ada, tetapi tidak ada definisi yang tepat. Ini bukan berarti tidak ada sama sekali definisi yang dianggap layak (berdasarkan kaidah-kaidah pendefinisian), melainkan hanya menegaskan jangkauan dari definisi yang dianggap layak. Dengan pengertian bahwa ada definisi yang baik, dan kalaupun ada definisi yang tepat &#8230; itu adalah merupakan definisi yang konsisten dalam jangkauan tertentu tetapi tidak menyeluruh.</p>
<p style="text-align:justify"><span id="more-1002"></span>Dan memang tidak ada definisi yang sedemikian lengkap kecuali jika elemen-elemen pembentuk definisinya telah dengan jelas kebenarannya bertahan setelah dipertentangkan dengan segala elemen kenyataan yang ada.</p>
<p style="text-align:justify">Sebagai contoh demikian: untuk menjelaskan bahwa sebuah lingkaran dalam jangkauan tertentu adalah sesuatu yang dapat dijelaskan dengan suatu rumusan yang terkait dengan rumusan tentang lingkaran, bukanlah merupakan pendefinisian yang lengkap (yang tepat).</p>
<p style="text-align:justify">Contoh lain lagi: mendefinisikan “sejumlah empat potong kue” sebagai “sejumlah dua potong kue” ditambah “sejumlah dua potong kue” bukanlah suatu pendefinisian yang tepat. Pendefinisian yang mendekati tepat terhadap hal ini adalah, “sejumlah empat potong kue” adalah “bukan sejumlah lima potong kue”, “bukan sepuluh potong kue”, “bukan pula suatu tanaman”, “bukan pula suatu jenis minuman”, “bukan pula sejumlah empat dari kenyataan planet yang ada di tata surya”, dan seterusnya dipertentangkan dengan kenyataan yang ada di semesta ini. Ini adalah demi mencapai pendefinisian yang tepat. Dapatkah ini tercapai, tentu tidak !</p>
<p style="text-align:justify">Lalu mengapa kita menganggap mampu mendefinisikan dan dianggap ada definisi yang layak . Hal itu adalah karena kebutuhan kita memperjelas sesuatu masih dirasa kurang dan perlu untuk memperjelas sesuatu tersebut dengan mengkaitkannya kepada hal lain yang dianggap cukup populer secara personal  (baca: <a href="http://seremonia.wordpress.com/2009/03/11/logic-make-sense/">logic &amp; make sense</a>) maka muncullah penjelasan (pendefinisian).</p>
<p style="text-align:justify">Ini semua menegaskan bahwa sebenarnya kegiatan pendefinisian selalu merupakan kegiatan mempersempit (disadari atau tidak) batasan tentang sesuatu (karena ketidakmampuan kita menguji ketahanan elemen-elemen yang menjadi bagian dari yang didefinisikan dalam pertentangannya dengan keseluruhan keberadaan lainnya).</p>
<p style="text-align:justify">Jadi jika kita menganggap bahwa suatu definisi sangat tidak lengkap atau dituduh mempersempit sesuatu kebenaran, adalah memang benar demikian. Bahkan ketika anda pun merasa definisi telah sedemikian lengkap, padahal sebenarnya hal itu tidak mungkin. Ini bukan berarti kita telah terlibat di dalam suatu kegiatan yang salah (dalam hal ini kegiatan mendefinisikan yang dianggap tidak layak).</p>
<p style="text-align:justify">Jika memang demikian, bagaimana seharusnya (paling mendekati tepat) menyikapi kegiatan mendefinisikan sesuatu ? Yaitu mendefinisikan adalah sebagai suatu kegiatan yang membimbing seseorang kepada sesuatu, dengan tetap tidak dapat dilepaskan dari mempersempit suatu kebenaran. Artinya, mendefinisikan adalah meletakkan (mengarahkan) kesadaran kita  kepada kenyataan lainnya yang bersesuaian (dalam beberapa cara tertentu) dengan apa yang didefinisikan, sebagai titik awal kesadaran yang menunjukkan perkembangan pemahaman kita pada saat itu (di saat sedang mendefinisikan). Oleh karena itu kegiatan mendefinisikan adalah kegiatan memahami sesuatu pada titik tertentu dan dikemudian hari (boleh jadi) menjadi lebih luas lagi pemahamannya (perluasan kesadaran).</p>
<p style="text-align:justify">Definisi sesuatu tidaklah tetap melainkan dinamis yang merupakan perluasan kesadaran, tetapi bukan berarti inkonsisten. Definisi haruslah konsisten dan kalau perlu (bisa) berkembang. Sebagai contoh anda menjelaskan bahwa “sesuatu itu adalah kendaraan beroda empat”. Penyempitan (pembatasan) pengertian ini dapat diterima dan dikemudian hari boleh jadi dapat berkembang menjadi “sesuatu itu adalah kendaraan beroda empat yang dapat dibebani oleh beban dalam jumlah tertentu”. Tetapi tidak benar jika dikemudian hari dinyatakan sebagai “sesuatu itu adalah kendaraan beroda dua&#8221; (padahal rodanya masih empat seperti ketika pertama kali mendefinisikan). Ada inkonsistensi disini, dan bukan merupakan pendefinisian yang baik. Tetapi jika kaidah-kaidah pendefinisian yang benar telah diikuti maka jangan sampai men-tidak-layakkan suatu definisi hanya karena suatu definisi tidak “well defined” (tidak lengkap), karena hal itu (ketepatan well defined) mustahil dicapai bagi kita</p>
<p style="text-align:justify">Mendefinisikan (walaupun pada akhirnya mempersempit batasan tentang sesuatu kebenaran) adalah kegiatan yang secara konsisten seharusnya memperluas kesadaran kita. Melalui pemahaman terhadap pendefinisian seperti ini serta menyikapi pendefinisian seperti ini akan menghantarkan kita kepada perluasan kebaikan (apapun bentuknya yang paling sesuai bagi kita) dan menjauhkan kita dari mengkaitkan suatu definisi dengan sesuatu yang dianggap sebagai kurang berkualitas. Singkatnya: definisi apapun itu sejauh telah memadai maka adalah merupakan definisi yang berkualitas, karena definisi seharusnya memang tidak statis melainkan berkembang secara konsisten dengan lebih mencerahkan (memperluas) kesadaran siapapun yang merasa sedang mendefinisikan sesuatu (baik beberapa saat sesudah mendefinisikan atau di kemudian hari).</p>
<p style="text-align:justify">Maka, adakah well defined ? Jawabnya ada (seminim apapun pembatasan yang disadari sebagai konsekuensi dari pendefinisian itu yang merupakan suatu kebenaran tertentu), karena seharusnya  baiknya pendefinisian bukanlah dilihat dari tidak sempitnya elemen-elemen definisi (karena hal ini tidak bisa dihindari) tetapi dari seberapa konsisten suatu pendefinisian serta bagaimana penerimaan kita terhadap perluasan yang ditimbulkan  oleh suatu definisi tertentu (dengan tidak mengabaikan persyaratan pendefinisian yang baik lainnya). Jadi, biarkanlah elemen-elemen definisi berkembang sebagai sarana perluasan kesadaran anda, sedangkan konsistensi yang terkandung dari suatu definisi dijadikan sebagai dasar kebenaran dari suatu definisi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eureka.blogs.mu/2009/04/18/well-defined/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Lucid Dream</title>
		<link>http://eureka.blogs.mu/2009/03/18/lucid-dream/</link>
		<comments>http://eureka.blogs.mu/2009/03/18/lucid-dream/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Mar 2009 13:22:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eureka</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Educational]]></category>

		<category><![CDATA[awakening]]></category>

		<category><![CDATA[cahaya]]></category>

		<category><![CDATA[dreamer]]></category>

		<category><![CDATA[dreaming]]></category>

		<category><![CDATA[false]]></category>

		<category><![CDATA[flash light]]></category>

		<category><![CDATA[kedipan]]></category>

		<category><![CDATA[kejelasan]]></category>

		<category><![CDATA[kenyataan]]></category>

		<category><![CDATA[kilatan]]></category>

		<category><![CDATA[lucid]]></category>

		<category><![CDATA[lucidity]]></category>

		<category><![CDATA[mimpi jelas]]></category>

		<category><![CDATA[novadreamer]]></category>

		<category><![CDATA[realisme]]></category>

		<category><![CDATA[remdreamer]]></category>

		<category><![CDATA[salah bangun]]></category>

		<category><![CDATA[sensasi]]></category>

		<category><![CDATA[suara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://seremonia.wordpress.com/?p=785</guid>
		<description><![CDATA[Pernahkah anda bermimpi ? Sering tentunya. Pernahkah anda menyadari bahwa anda sedang bermimpi ? Ini yang mungkin jarang. Ketika anda menyadari bahwa sedang bermimpi, maka seketika itu pula lingkungan mimpi yang melingkupi anda mendadak menjadi realita yang sangat solid (real - nyata) di dalam sensasi sentuhan ataupun interaksi anda terhadapnya.
Anda menjadi seperti di dunia yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-786" src="http://seremonia.files.wordpress.com/2009/03/remdreamer.png" alt="remdreamer" width="237" height="136" />Pernahkah anda bermimpi ? Sering tentunya. Pernahkah anda menyadari bahwa anda sedang bermimpi ? Ini yang mungkin jarang. Ketika anda menyadari bahwa sedang bermimpi, maka seketika itu pula lingkungan mimpi yang melingkupi anda mendadak menjadi realita yang sangat solid (real - nyata) di dalam sensasi sentuhan ataupun interaksi anda terhadapnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-785"></span>Anda menjadi seperti di dunia yang memiliki tingkat kepadatan - real yang mirip seperti di dunia ketika anda bangun dari mimpi. Keunikannya karena disini adalah dunia mimpi maka serta merta kesadaran anda membuat dunia mimpi tersebut berada dalam kontrol kehendak anda.</p>
<p style="text-align: justify;">Segera setelah anda menginginkan sesuatu dengan amat sangat, datanglah sekejap di depan anda (di dalam mimpi tersebut). Ini anda rasakan dengan hampir atau bahkan sama nyatanya dengan ketika di keadaan jaga (tidak sedang bermimpi).</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaikan simulasi realita, anda dapat mensimulasikan laboratorium penelitian dimana anda dapat mencari tahu apa yang terjadi jika suatu campuran dilakukan. Sebuah simulasi Televisi atau bahkan simulasi minuman dengan rasa dari jenis apa saja sejauh imajinasi anda, seperti minuman dengan cita rasa gabungan antara rasa jeruk dengan abstraksi dari keindahan musik Mozart. Atau minuman yang memiliki rasa gabungan dari cita rasa cinta tulus dengan cita rasa kelembutan embun.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini adalah dunia yang ajaib, dunia mimpi. Paling tidak anda mengetahui betapa jangan semudah itu menyangkal manakah yang real dan manakah yang tidak. Apa kriteria dari yang ini real dan yang ini bukan. Memang ini hanya dapat diperbincangkan dengan praktisi olah jiwa dan semacamnya. Dan kita semakin terbuka memahami sampai seberapa jauh nilai imajinasi memiliki kualitas terhadap interaksi dengan diri kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika anda sedang tertidur, dan tiba-tiba seseorang memercikkan air ke muka seseorang yang sedang tidur dan kebetulan juga sedang bermimpi, boleh jadi percikan air tersebut diartikan sebagai pengalaman hujan di dalam mimpinya. Atau ketika suatu wewangian di dekatkan ke hidung orang yang sedang bermimpi, mungkin akan diartikan sebagai pengalaman yang sesuai dengan watak dan pengalaman seseorang tersebut. Tetapi si &#8220;yang sedang bermimpi&#8221; tidak menyadari bahwa sensasi di alam mimpi adalah sebagai akibat dari pancingan (stimulus) dari luar (yang dilakukan oleh orang yang tidak sedang tidur). Seandainya dia menyadari bahwa pengalaman hujan (akibat diperciki air) ia kenali sebagai akibat dari pengalaman luar, maka si &#8220;yang sedang bermimpi&#8221; akan segera menyadari dan mengalami &#8220;Lucid Dreaming&#8221; yaitu mimpinya berubah menjadi mimpi yang jelas dan dapat dikontrol.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan suatu alat tertentu seperti <a href="http://remdreamer.com/" target="_blank">remdreamer</a> atau <a href="http://www.lucidity.com/novadreamer.html" target="_blank">novadreamer</a> yang mampu mendeteksi apakah seseorang sedang bermimpi atau tidak, maka dapat diberikan kode seperti kilasan cahaya (flash light - yang berkedip-kedip) hanya ketika si pemakai alat tersebut sedang bermimpi. Si pemimpi mungkin akan merasakan pengalaman mimpi dari skenario awal yang berubah menjadi skenario menaiki sepeda motor dengan lampu yang berkedip (seolah akan rusak) atau merasa di alam mimpi melihat mobil pemadam kebakaran atau interpretasi lainnya. Untuk pertama kali mungkin si pemimpi tidak menyadari bahwa skenario pengalaman dalam mimpinya berasal dari (akibat dari) pancingan dari alat pemancar kedipan cahaya. Tetapi kalau setiap akan tidur alat tersebut dipakai (dijadikan penutup kedua mata), maka diri kita - kebiasaan kita atau entah apa istilahnya akan membentuk pemahaman reflek - pemahaman otomatis bahwa kalau ada kedipan cahaya berarti berasal dari alat tersebut (berbentuk seperti kacamata).</p>
<p style="text-align: justify;">Pemahaman reflek ini akan berlanjut sampai ke alam mimpi, sehingga segera setelah alat ini mendeteksi anda sedang bermimpi (ditandai oleh pergerakan mata yang cepat - REM - Rapid Eye Movement), ia (alat ini) akan menyalakan cahaya yang berkedip-kedip serta suara dengan kekuatan naik-turun, dan pemahaman reflek anda akan mengingatkan anda (yang sedang bermimpi) bahwa pengalaman apapun di alam mimpi yang melibatkan cahaya &amp; suara  (seperti mobil pemadam kebakaran, sirene polisi atau yang lainnya) adalah sebagai akibat dari pancingan alat tersebut. Keadaan ini akan menggugah kesadaran anda untuk menyadari adanya dunia luar yang mempengaruhi mimpinya (dalam hal ini adalah alat tersebut) yang akan menyadarkan si pemimpi (tanpa harus terbangun dari tidur - kecuali kalau kekuatan lampu atau suaranya di atur terlalu silau dan keras) dan membuat mimpinya sesegera mungkin berubah menjadi &#8220;Lucid Dream&#8221; - mimpi yang sedemikian jelas (seolah-olah di alam realita ketika terjaga dari tidur) dan dapat dikontrol dengan kehendak sebagaimana yang telah dijelaskan.</p>
<p style="text-align: justify;">Anda mungkin bertanya, <strong>seberapa jelas kenyataan mimpi ketika sampai kepada level &#8220;mimpi jelas&#8221;</strong> (Lucid Dream) ? Berikut ini penjelasannya. Walaupun ini adalah kasus yang langka, bukan berarti tidak pernah terjadi, yaitu istilah dikalangan Lucid Dreamer, yaitu &#8220;False Awakening&#8221; (Salah Bangun). Maksudnya &#8230; ? Jadi setelah anda bermimpi jelas (lucid dream) lalu mengontrol alam mimpi anda agar dapat mengalami terbang dan sensasi apa saja yang anda hasratkan, maka mendadak alam mimpi nampak runtuh seperti runtuhnya lukisan 3D (sensasinya sedemikian nyata - seolah-olah seperti matrix) dan disusul dengan ketidak-sadaran anda, lalu tidak sampai lama anda bangun dari tidur seperti biasanya. <strong>Yang jadi masalah disini adalah</strong>, anda mengalami &#8220;false awakening&#8221; (salah bangun), dimana setelah keruntuhan alam mimpi, dan anda terbangun, ternyata <strong>mimpi jelas (lucid dream) masih berlanjut !</strong> Dengan segala tata letak ruangan dan sensasi keadaan mirip (bahkan boleh jadi sulit dibedakan - kecuali anda sedemikian teliti) dengan keadaan kehidupan anda ketika sedang terjaga dari tidur.</p>
<p style="text-align: justify;">Anda merasa sedang mandi, makan, berbicara dengan anggota keluarga anda, padahal itu semua adalah tokoh mimpi (anda ternyata masih bermimpi) ! Tetapi jangan khawatir karena bahkan alam pun tidak dapat menciptakan tiruan yang dapat sedemikian mirip, karena alam bukan Tuhan. Kalau anda teliti keadaan mimpi yang berlanjut tersebut (false awakening) ada banyak keganjilan - keanehan. Sebagai contoh kalau anda menulis di kertas, setelah anda memalingkan muka ke arah lain dan kembali ke tulisan tersebut, tulisan itu akan hilang. Tengoklah jam dinding, setiap saat setelah anda mengamati dan mengulangi lagi pengamatan setelah mengabaikannya, akan terlihat jam di dinding menunjukkan waktu yang berbeda. Jika hal itu terjadi, berarti anda sedang (masih) bermimpi. Yang perlu anda lakukan adalah mencari tempat tidur di alam mimpi atau berbaring saja dan menidurkan diri lagi dengan harapan bangun yang berikutnya adalah bangun dengan versi kenyataan sebagaimana sebelum anda tidur.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya ini terjadi karena ketika tadi anda sedang mengalami lucid dream, sensasi mimpi jelas tersebut sedemikian cepat hilang, sedangkan mungkin tubuh anda masih lelah dan masih tertidur, sehingga sensasi hancurnya alam mimpi harus berlanjut dengan skenario lainnya yang dianggap masuk akal, yaitu skenario bangun tidur. Tetapi durasi - waktu tidur anda tidak berarti bertambah melainkan sensasi &#8220;false awakening&#8221; tersebut akan berlanjut sampai waktu tidur normal anda mendekati waktu bangun yang sesungguhnya, maka secara otomatis anda terbangun dengan sendirinya dengan situasi tampilan alam yang memang benar-benar seperti di saat sebelum tertidur.</p>
<p style="text-align: justify;">Itu sebabnya, para lucid dreamer (yang mempraktekkan - memicu dengan sengaja - lucid dream) sering menuliskan sesuatu di online internet, untuk dijadikan rujukan setelah bangun, apakah tulisan yang telah dicantumkan di internet berubah atau tidak, jika tidak berubah maka dianggap ia telah benar-benar bangun.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain dari segi manfaatnya sebagai simulasi kehidupan yang terkesan nyata &amp; yang dapat digunakan untuk pembelajaran sikap, pengamatan dst, ternyata ada juga sisi sulitnya. Satu hal lagi yang perlu diketahui, pengidap penyakit epilepsi boleh jadi dapat terpengaruh (penyakitnya kambuh) setelah menggunakan alat pemicu lucid dreamer seperti <a href="http://remdreamer.com/" target="_blank">remdreamer</a> atau <a href="http://www.lucidity.com/novadreamer.html" target="_blank">novadreamer</a> ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Memang masih banyak misteri yang kita tidak akan pernah dapat mengetahuinya secara keseluruhan &amp; tuntas.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://eureka.blogs.mu" target="_self">Home</a><em><br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eureka.blogs.mu/2009/03/18/lucid-dream/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Synchronization &#8230; Atheism &amp; Religions</title>
		<link>http://eureka.blogs.mu/2009/03/18/sync-atheism-religions/</link>
		<comments>http://eureka.blogs.mu/2009/03/18/sync-atheism-religions/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Mar 2009 02:34:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eureka</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Philosophy]]></category>

		<category><![CDATA[ada tiada]]></category>

		<category><![CDATA[adaptasi]]></category>

		<category><![CDATA[adjustable]]></category>

		<category><![CDATA[adjustment]]></category>

		<category><![CDATA[agama]]></category>

		<category><![CDATA[angka]]></category>

		<category><![CDATA[asking]]></category>

		<category><![CDATA[ateisme]]></category>

		<category><![CDATA[atheism]]></category>

		<category><![CDATA[atheist]]></category>

		<category><![CDATA[bertanya]]></category>

		<category><![CDATA[budha]]></category>

		<category><![CDATA[calculation]]></category>

		<category><![CDATA[calculator]]></category>

		<category><![CDATA[christianity]]></category>

		<category><![CDATA[count]]></category>

		<category><![CDATA[fair enough]]></category>

		<category><![CDATA[faith]]></category>

		<category><![CDATA[hindu]]></category>

		<category><![CDATA[jumlah]]></category>

		<category><![CDATA[katolik]]></category>

		<category><![CDATA[keabsahan]]></category>

		<category><![CDATA[keimanan]]></category>

		<category><![CDATA[kristen]]></category>

		<category><![CDATA[logical]]></category>

		<category><![CDATA[logika]]></category>

		<category><![CDATA[logis]]></category>

		<category><![CDATA[matematika]]></category>

		<category><![CDATA[mathematics]]></category>

		<category><![CDATA[mosleem]]></category>

		<category><![CDATA[muslim]]></category>

		<category><![CDATA[nomer]]></category>

		<category><![CDATA[nomor]]></category>

		<category><![CDATA[number]]></category>

		<category><![CDATA[pengujian]]></category>

		<category><![CDATA[penyesuaian]]></category>

		<category><![CDATA[perhitungan]]></category>

		<category><![CDATA[religions]]></category>

		<category><![CDATA[sinkronisasi]]></category>

		<category><![CDATA[synchronization]]></category>

		<category><![CDATA[validasi]]></category>

		<category><![CDATA[validation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://seremonia.wordpress.com/?p=741</guid>
		<description><![CDATA[Sejauh pengetahuan saya ada empat agama yang diakui yaitu Islam, Kristen/Katolik, Hindu &#38; Budha, atau boleh juga dianggap ada agama-agama lainnya sejauh pengukuhan tersebut juga menegaskan keberadaan Tuhan.
Agama-agama ini dalam perbincangannya dengan kaum ateis cenderung berada pada posisi bertahan (atau mungkin tidak) membela Tuhan dengan definisi Tuhannya masing-masing. Ini bukan masalah sejauh dikembalikan kepada agama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sejauh pengetahuan saya ada empat agama yang diakui yaitu Islam, Kristen/Katolik, Hindu &amp; Budha, atau boleh juga dianggap ada agama-agama lainnya sejauh pengukuhan tersebut juga menegaskan keberadaan Tuhan.</p>
<p style="text-align: justify;">Agama-agama ini dalam perbincangannya dengan kaum ateis cenderung berada pada posisi bertahan (atau mungkin tidak) membela Tuhan dengan definisi Tuhannya masing-masing. Ini bukan masalah sejauh dikembalikan kepada agama masing-masing (saling menghargai). Sedangkan kaum ateis cenderung menolak definisi dari masing-masing agama tentang Tuhan.</p>
<p style="text-align: justify;">Bukankah sekarang saatnya kita berusaha balik bertanya &#8230;</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-741"></span>Pertanyaan ini ditujukan dari kami kepada anda (yang untuk sementara merasa sebagai kaum ateis). Seandainya anda tidak mengakui keberadaan Tuhan yang dianut oleh agama-agama atau bahkan kepercayaan-kepercayaan terhadap keberadaan Tuhan, maka:</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">1. Dapatkah anda menegaskan bahwa <em><strong>sesuatu itu tidak ada</strong></em> ?</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">2. Sampai seberapa jauh <em><strong>piranti yang anda pakai </strong></em>(untuk memastikan sesuatu adalah tidak ada) terlibat dalam kehidupan sehari-hari anda atau orang lain ?</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">3. Apakah seseorang yang tidur dikatakan <em><strong>kesadaran dirinya </strong></em>masih ada atau tidak ada ?</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">4. <em><strong>Yakinkah anda</strong></em> bahwa ketika berbicara dengan seseorang melalui telepon, memang benar bahwa lawan bicara anda memang ada dan bukannya tiada ?</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">5. Jika teman anda, keluarga anda atau siapapun yang anda kenal dan baru saja (terakhir kali) anda ketahui telah terbangun dari tidur dan beraktifitas, <em><strong>yakinkah anda</strong></em> bahwa boleh jadi kesadaran seseorang yang baru bangun tidur tadi adalah bukan lagi dari teman anda ?</p>
<p style="text-align: justify;">Boleh jadi anda bukan a-teis ?</p>
<p style="text-align: justify;">masih berlanjut, &#8230;</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">6. Pernahkah anda memberikan <em><strong>kepercayaan tanggung-jawab</strong></em> sebesar atau sekecil apapun kepada seseorang ?</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">7. Kalaupun anda menegaskan ke-tidak-MahaKuasa-an Tuhan dan ke-tidak-MahaKasih-an Tuhan, ini sama saja dengan menyatakan, saya mengamati dengan cara tertentu bahwa: &#8220;Tuhan Maha Kuasa dan atau Tuhan Maka Kasih adalah tidak benar&#8221;. Lalu dengan cara bagaimana <em><strong>pengamatan</strong></em> tersebut anda lakukan ? Dengan <strong><em>menghitung</em></strong> banyaknya peristiwa yang dapat dianggap mencerminkan ke-tidak-MahaKuasa-an dan atau ke-tidak-MahaKasih-an Tuhan ? Lalu apakah semua peristiwa sudah anda hitung, sehingga memastikan prosentase kebenaran pernyataan anda ? Kalau sudah, anda hitung menggunakan apa (survey yang anda lakukan) ?</p>
<p style="text-align: justify;">Boleh jadi anda bukan a-teis ?</p>
<p style="text-align: justify;">masih berlanjut , &#8230;</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">8. Pernahkah anda mengimani sesuatu apapun itu ? Apa yang <em><strong>menyampaikan kepada iman</strong></em> anda ?</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">9. Manakah yang sering anda pakai dalam kehidupan, <em><strong>logika atau perasaan</strong></em> ?</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">10. <em><strong>Yakinkah anda</strong></em> bahwa jumlah sebesar 1 trilyun yang dilipatkan jumlahnya menjadi 1 trilyun kali lipat adalah lebih besar dari jumlah sebesar satu ?</p>
<p style="text-align: justify;">Boleh jadi anda bukan a-teis &amp; bukan pula teis, melainkan <em><strong>sedang dalam keraguan ?</strong></em></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://eureka.blogs.mu" target="_self">Home</a><em><strong><br />
</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eureka.blogs.mu/2009/03/18/sync-atheism-religions/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Binary Comparison &amp; Quality Control</title>
		<link>http://eureka.blogs.mu/2009/03/16/binary-comparison-quality-control/</link>
		<comments>http://eureka.blogs.mu/2009/03/16/binary-comparison-quality-control/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Mar 2009 10:35:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eureka</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Projects]]></category>

		<category><![CDATA[binary]]></category>

		<category><![CDATA[biner]]></category>

		<category><![CDATA[butir]]></category>

		<category><![CDATA[choice]]></category>

		<category><![CDATA[compare]]></category>

		<category><![CDATA[comparison]]></category>

		<category><![CDATA[conclusion]]></category>

		<category><![CDATA[Connectivity]]></category>

		<category><![CDATA[eksperimen]]></category>

		<category><![CDATA[experimental]]></category>

		<category><![CDATA[kebijaksanaan]]></category>

		<category><![CDATA[laboratorium]]></category>

		<category><![CDATA[laboratory]]></category>

		<category><![CDATA[network]]></category>

		<category><![CDATA[pancasila]]></category>

		<category><![CDATA[perbandingan]]></category>

		<category><![CDATA[pilihan]]></category>

		<category><![CDATA[qc]]></category>

		<category><![CDATA[quality control]]></category>

		<category><![CDATA[spreadsheet]]></category>

		<category><![CDATA[sub items]]></category>

		<category><![CDATA[wisdom]]></category>

		<category><![CDATA[wise]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://seremonia.wordpress.com/?p=667</guid>
		<description><![CDATA[Kita sering diharuskan melakukan perbandingan apakah suatu keputusan lebih bijaksana dibandingkan dengan lainnya. Terlepas dari suatu keputusan tertentu lebih bijaksana dibandingkan lainnya dalam satu kasus tertentu, kita membutuhkan standarisasi terlebih dahulu, kemudian kemungkinan-kemungkinan dinilai berdasarkan standarisasi tersebut yang akan memperlihatkan kualitas dari kemungkinan-kemungkinan yang ada.
Dengan meletakkan standarisasi kepada urutan biner, akan dapat diketahui kualitas dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kita sering diharuskan melakukan perbandingan apakah suatu keputusan lebih bijaksana dibandingkan dengan lainnya. Terlepas dari suatu keputusan tertentu lebih bijaksana dibandingkan lainnya dalam satu kasus tertentu, kita membutuhkan standarisasi terlebih dahulu, kemudian kemungkinan-kemungkinan dinilai berdasarkan standarisasi tersebut yang akan memperlihatkan kualitas dari kemungkinan-kemungkinan yang ada.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan meletakkan standarisasi kepada urutan biner, akan dapat diketahui kualitas dari suatu kemungkinan diperbandingkan dengan kemungkinan lainnya dalam suatu standarisasi yang relevan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-667"></span><img title="More..." src="http://1.1.1.4/bmi/seremonia.net/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" /><span style="text-decoration: underline;">English version at the end of this version</span></p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai contoh: tentukan suatu standarisasi terlebih dahulu. Di sini saya menggunakan contoh yang sangat sederhana yaitu standarisasi PANCASILA.</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">1. Ke-Tuhan-an Yang Maha Esa</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">2. Kemanusiaan Yang Adil &amp; Beradab</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">3. Persatuan Indonesia</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia</p>
<blockquote><p>Standarisasi PANCASILA ini memiliki 5 item utama (selain dari butir-butirnya) yang dapat dimasukkan ke dalam urutan biner menjadi 5 angka biner. Jadi anda siapkan terlebih dahulu 5 angka biner (dalam bayangan – kalau anda dapat berpikir cepat, atau di catat di buku tulis). Seperti ini: 1-1-1-1-1, lalu terjemahkan ke dalam notasi bilangan Dec (menggunakan kalkulator) menjadi = 31. Jumlah sebesar 31 adalah jumlah (moral) tertinggi jika keseluruhan (5 – lima) tahapan PANCASILA terlaksana.<br />
Setelah anda menemukan nilai tertinggi untuk suatu standarisasi, dalam contoh ini yaitu = 31, maka siapkan 5 tempat bagi angka biner yaitu 5 angka NOL = 0-0-0-0-0.</p>
<p>Kemudian tentukan <em><strong>kemungkinan-kemungkinan</strong></em>. Sebagai contoh: seseorang di suatu tempat (dengan standarisasi PANCASILA) telah melakukan tiga hal yaitu: urutan sila ke-1, 2 dan sila ke-5, maka pemetaan dalam notasi biner menjadi:</p>
<p>0-0-0-0-0 = nol pertama adalah tempat bagi status terlaksananya standarisasi urutan pertama, nol kedua adalah tempat bagi status terlaksananya standarisasi urutan ke-dua, dan seterusnya.</p></blockquote>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;">(dan karena sila ke-1,2 &amp; sila ke-5 terlaksana), maka urutan ke-1,2 &amp; ke-5 dari ke-5 tempat biner dirubah menjadi satu:</p>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;">1-0-0-1-1 = 19, ini adalah nilai kualitas jika ke-tiga butir (yang tertentu) pancasila terlaksana. Bandingkanlah jika menggunakan kombinasi lainnya. Yang lebih baik tentu kalau semua terlaksana (nilai = 31), dan kalau tidak dapat terlaksana semuanya, paling tidak dapat dilihat status dari kualitasnya dibandingkan dengan kemungkinan (kombinasi) lainnya.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana kalau suatu item (sila) memiliki banyak sub-item (butir-butir) ? Dengan menggunakan contoh PANCASILA, berarti anda harus menyiapkan untuk keseluruhan sub-item (butir-butir) dari suatu item (sila) tertentu sebagai satu deret biner seperti yg telah dijelaskan di atas, dan perhitungan dilakukan sama seperti yang telah dijelaskan tetapi dilakukan secara terpisah, dimana perhitungan dari sejumlah sub-item (butir-butir) tidak melibatkan item-item induknya (ke-5 sila Pancasila).</p>
<p style="text-align: justify;">Dan setelah satu group sub-item (butir-butir) diketahui kualitasnya, maka konversilah menjadi nilai prosentase dari keseluruhan (total) nilai maksimal (nilai yang diperoleh jika keseluruhan sub-item dari suatu sila Pancasila terlaksana). Nilai prosentase tersebut menentukan sampai seberapa jauh dapat dibulatkan ke-atas sehingga menyandang status 1 dari notasi biner. Jika semakin dekat dengan 100% (misalkan 95%), akan dapat dibulatkan menjadi 100% dan menyandang status 1 dalam notasi biner, sehingga secara langsung … item induknya (sila yang terkait) memiliki status 1, atau jika tidak layak dibulatkan ke atas, berilah nilai 0 sehingga item induknya (sila tertentu yang terkait) secara otomatis memiliki nilai status 0. Kemudian lanjutkan ke sejumlah sub-item (butir-butir) lainnya yang terletak di item induk (sila Pancasila) berikutnya.</p>
<p>Setelah masing-masing dari ke-5 item induk (sila Pancasila) memperoleh nilai statusnya yang berasal dari limpahan beberapa sub-item (butir-butir) dari masing-masing sila, maka anda telah memiliki deret biner dari PANCASILA (dengan perbedaan dengan yang di atas, dimana perhitungan disini telah melibatkan butir-butirnya). Deret biner tersebut anda konversi ke nilai Dec (menggunakan kalkulator) untuk mendapatkan nilai kualitasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan mencoba kombinasi pelaksanaan butir-butir Pancasila, dapat diketahui perbandingan kualitas dari kemungkinan – kemungkinan kombinasi.</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Metode analisa kualitas perbandingan ini sangat ditentukan oleh</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">1. Struktur dari standarisasi yang ada</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">2. Kelengkapan dari stuktur standarisasi yang ada</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">Ini adalah masalah, karena ke-dua hal ini atau mungkin ada yang lainnya (ini adalah sejauh yang saya ketahui) juga memiliki parameter yang berbeda bagi setiap pribadi, sehingga sekali lagi pada akhirnya hasil penilaian dengan menggunakan metode ini dapat berbeda-beda di antara satu pribadi dengan pribadi lainnya. Ini bukan masalah, karena penerapan inipun dapat bersifat pribadi sejauh dapat membantu mempercepat proses analisa secara pribadi pula.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini hanyalah sebagian kecil dari kebijaksanaan atau bahkan justru sama sekali kurang tepat (kurang mempunyai nilai – karena tidak ada sesuatu yang tidak mempunyai nilai tergantung dari mana sudut pandang nilai itu sendiri serta keterkaitannya dengan fungsi tertentu), lagi pula <strong><em>ini adalah sesi eksperimental, anda dapat mencoba dan mungkin dapat mengetahui sampai seberapa jauh proyek eksperimental ini memiliki nilai guna</em></strong>.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika sesi (metode) ini memiliki kemiripan dengan yang pernah anda kenal, silakan informasikan, karena inisiatif (metode) dari saya secara pribadi ini belum sempat saya telusuri di dunia maya atau dimanapun itu (kecuali di diri saya sendiri). Terima-kasih.</p>
<p style="text-align: justify;">Penerapan praktis menggunakan spreadsheet dapat dicoba di link berikut ini: <a href="http://public.sheet.zoho.com/public/seremonia/binary-comparison-for-pancasila" target="_blank">Binary Comparison</a></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;"><strong>English Version</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">We are often required to do the comparison,  and first, we need standardization, then possibilities are assessed based on the standardization that will show the quality of possibilities that exist.</p>
<p style="text-align: justify;">By placing the binary sequence to the standardization, quality will be known from a possibility that relevant to a specific standardization.</p>
<p style="text-align: justify;">For example: set a first standardization. Here I use a very simple example, namely standardization Pancasila.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pancasila</strong>, pronounced Panchaseela, is the philosophical basis of the Indonesian State. Pancasila consists of two Sanskrit words, “Panca” meaning five, and “Sila” meaning principle. It comprises five inseparable and interrelated principles. They are:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><span>BELIEF IN THE ONE AND ONLY GOD</span></li>
<li><span>JUST AND CIVILIZED HUMANITY</span></li>
<li><span>THE UNITY OF INDONESIA</span></li>
<li><span>DEMOCRACY GUIDED BY THE INNER WISDOM IN THE UNANIMITY ARISING OUT OF DELIBERATIONS AMONGST REPRESENTATIVES</span></li>
<li><span>SOCIAL JUSTICE FOR WHOLE OF THE PEOPLE OF INDONESIA</span></li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Elaboration of the five principles is as follows:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><strong>Belief in the One and Only God</strong><br />
This principle of Pancasila reaffirms the Indonesian people’s belief that God does      exist. It also implies that the Indonesian people believe in life after death. It      emphasizes the pursuit sacred values will lead the people to a better life in the      hereafter. The principle is embodied in article 29, Section 1of the 1945 Constitution      and reads: The state shall be based on the belief in the One and Only God.</li>
<li><strong>Just and Civilized Humanity</strong><br />
Just principle requires that human beings be treated with due regard to their dignity      as God’s creatures. It emphasizes that the Indonesian people do not tolerate physical or spiritual oppression of human beings by their own people or by any other nation.</li>
<li><strong>The Unity of Indonesia</strong><br />
This principle embodies the concept of nationalism, of love for one’s nation and motherland. It envisages the need to always foster national unity and integrity. Pancasila Nationalsm demands that Indonesians avoid feelings of superiority on ethnical grounds, for reasons of ancestry and colour of the skin. In 1928 Indonesian youth pledged to have one country, one nation and one language, while the Indonesian coat of arms enshrines the symbols of “Bhineka Tunggal Ika” which means “Unity in diversity”.</li>
<li><span><strong>Democracy Guided by the Inner Wisdom in the Unanimity Arising Out of  Deliberations amongst Representatives</strong></span><br />
Pancasila democracy calls for decision-making through deliberations, or musyawarah, to reach a consensus, or mufakat. It is democracy that lives up to the principles of Pancasila. This implies that democratic right must always be exercised with a deep sense of responsibility to God Almighty according to one’s own conviction and religious belief, with respect for humanitarian values of man’s dignity and integrity, and with a view to preserving and strengthening national unity and the pursuit of social justice.Thus, Pancasila Democracy means democracy based on the people’s soveregnity which is inspired by and integrated with other principles of Pancasila. This means that the use of democratic rights should always be in line with respüomnsibility towards God Almighty according to the respective faith; uphold humanvalues in line with human dignity; guarantee and strengthen national unity; and be aimed at realizing social justice for the whole of the people of Indonesia.</li>
<li><strong><span>Social Justice for the Whole of the People of Indonesia</span></strong><br />
This principle calls for the equitable spread of welfare to the entire population, not in a static but in a dynamic progressive way. This means that all the country’s natural resources and the national potentials should be utilized for the greater possible good and happiness of the people.Social justice implies protection of the weak. But protection should not deny them  work. On the contrary, they should work according to their abilities and fields of activity. Protection should prevent wilful treatment by the strong and ensure the rule of justice.These are the sacred values of Pancasila which, as a cultural principle, should  always be respected by every Indonesian because it is now the ideology of the state and the life philosophy of the Indonesian people.</li>
</ol>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Standardization using Pancasila has 5 main items (<a href="http://www.answers.com/topic/pancasila-1" target="_blank">explanatory points</a> – details – not included) that can be inserted in the binary sequence into 5 binary digits. So prepare your 5 binary digits, like this: 1-1-1-1-1, and then translated into the Dec  notation (using a calculator) to = 31. Amount equal to 31 is the number of (moral) the highest overall (5 – five) phases pancasila (requirement: all of these five principles must be accomplished)</p>
<p style="text-align: justify;">Once you find the highest value of a specific standardization, which in this example = 31, then prepare 5 places for the 5-digit binary (five zeros) = 0-0-0-0-0.</p>
<p style="text-align: justify;">Then specify the possibilities. For example: someone  and somewhere (with the standardization of Pancasila) has to do three things, namely: first principle, second principle &amp; the fifth principle, and all of  these  were done, then the mapping in a binary notation:</p>
<p>0-0-0-0-0 = first place from the right is the first place for the status of  the first principle of Pancasila  that assumed had been done, 2nd place from the right is the second place for the status of  the second principle of Pancasila  that assumed had been done, and the 3rd place from the right is the third place for the status of  the third principle of Pancasila  that assumed had been done.</p>
<p style="text-align: justify;">And the sequence of 1st, 2nd &amp; to 5th principle of Pancasila must be ordered like this:</p>
<p>1-0-0-1-1 = 19, this is the value if the quality of three principles (as selected above, 1st, 2nd &amp; 5th) of Pancasila had been done. Now find the percentage from 19 based on highest value = 31. At this point you will get the value of the quality of the specific combination related to this kind of standardization (Pancasila) = 61% (approx. = good enough), based on highest value = 100%. You can try using another combination from five principles of Pancasila.</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;"><strong>Inserting Explanatory Points of Pancasila on Binary Comparison</strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>You have to create same calculation as described above using first set of explanatory points of first principle of Pancasila, and it must be repeated for the next (second) set of explanatory points of second principle of Pancasila to the last (fifth) set of  explanatory points of fifth principle of Pancasila. And do it separatedly from the five principles (must be excluded).</li>
<li>Then you must convert the value of each of five set of explanatory points to a percentage of the overall maximum value related to specific set of explanatory points.</li>
</ol>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Percentage value of each of five sets of explanatory points will help us to determine how much can be rounded up to a value equal to 1. If the percentage of first set of explanatory points (owned by first principle) is close enough to 100% (eg 95%), then it will be rounded to 100% and it will be marked as number 1 <strong>in binary notation</strong>, and the specific principle related to these explanatory points (first principle) will automatically has status 1, or if not eligible to be rounded up, then you must give it a value of zero, and the specific principle related to these explanatory points (first principle) will automatically has status zero. And repeat it for the next set of explanatory points related to each of five principles of Pancasila.</p>
<p style="text-align: justify;">At this point you will have an ordered binary (binary array) from a combination of five status of each of five sets of explanatory points. And you can convert it to a dec notation and make a comparison based on highest value = 31 to get a percentage value that can be considered as a degree of its quality.</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">The accuracy of this method is determined by</p>
<p style="text-align: justify;">1. The structure of the existing standardization</p>
<p style="text-align: justify;">2. Completeness of structure of standardization</p>
<p style="text-align: justify;">The final results by using this method can vary between one person to other. This is not a problem, because the method will speed up the process of analysis personally.</p>
<p style="text-align: justify;">This is just a small part of the policy or even it is less precise and this is just my experimental session, you can try and may be able to find out how far the project has a beneficial value.</p>
<p style="text-align: justify;">If the session (method) has similarity with one that you know, please inform me, because i have not browse this method on the internet and anywhere (except in my own self) to find another similarity. Thank-you.</p>
<p style="text-align: justify;">An example of this experimental can be tested on the following link:  <a href="http://public.sheet.zoho.com/public/seremonia/binary-comparison-for-pancasila" target="_blank">Binary Comparison</a></p>
<p style="text-align: justify;">Pancasila (English version) from <a href="http://www.indonesia-ottawa.org/page.php?s=1000state" target="_blank">Embassy of Indonesia – Ottawa</a> &amp; <a href="http://www.answers.com/topic/pancasila-1" target="_blank">Answer.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eureka.blogs.mu/2009/03/16/binary-comparison-quality-control/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Definition of God</title>
		<link>http://eureka.blogs.mu/2009/03/15/definition-of-god/</link>
		<comments>http://eureka.blogs.mu/2009/03/15/definition-of-god/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Mar 2009 10:15:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eureka</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Philosophy]]></category>

		<category><![CDATA[alam semesta]]></category>

		<category><![CDATA[definisi]]></category>

		<category><![CDATA[definition]]></category>

		<category><![CDATA[mengembang]]></category>

		<category><![CDATA[nature]]></category>

		<category><![CDATA[penegasan]]></category>

		<category><![CDATA[pengembangan]]></category>

		<category><![CDATA[pengungkapan]]></category>

		<category><![CDATA[penjelasan]]></category>

		<category><![CDATA[pernyataan]]></category>

		<category><![CDATA[statement]]></category>

		<category><![CDATA[universal]]></category>

		<category><![CDATA[universe]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://seremonia.wordpress.com/?p=685</guid>
		<description><![CDATA[Untuk lebih memahami artikel di bawah ini anda harus memahami kebenaran tentang (There is God !) dan (There is Only One God !) terlebih dahulu.
Tuhan menurut saya adalah:

Keberadaan yang paling awal, menjadi sebab bagi segala selain dari-Nya,
Tidak ada keberadaan tak berawal lainnya disebelah manapun terhadap diri-Nya,    
Satu keberadaan dengan luas yang tetap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Untuk lebih memahami artikel di bawah ini anda harus memahami kebenaran tentang (<a href="http://eureka.blogs.mu/2009/03/11/there-is-god/" target="_self">There is God !</a>) dan (<a href="http://eureka.blogs.mu/2009/03/11/there-is-only-one-god/" target="_self">There is Only One God !</a>) terlebih dahulu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tuhan menurut saya adalah:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Keberadaan yang paling awal, menjadi sebab bagi segala selain dari-Nya,</li>
<li>Tidak ada keberadaan tak berawal lainnya disebelah manapun terhadap diri-Nya,    <span id="more-685"></span></li>
<li>Satu keberadaan dengan luas yang tetap (jangkauan luas diri-Nya tidak berkurang dan tidak bertambah) dan yang kekuasaan serta keberadaan-Nya melingkupi segala selain dari-Nya,</li>
<li>Segala sesuatu selain dari-Nya hanyalah merupakan refleksi dari atribut-atribut (sifat-sifat)-Nya,</li>
<li>Keberadaan Tak Berawal adalah sebagai Satu bagian keberadaan yang melingkupi banyak bagian-bagian yang diliputi oleh diri-Nya,</li>
<li>Alam semesta adalah bagian dari-Nya, karena Keberadaan Tak Berawal lebih luas dari alam semesta,</li>
<li>Keberadaan Tak Berawal itu sendiri ke segala penjuru terhadap gaya-gayanya, ataupun potensi-potensi serta kemungkinan - kemungkinannya adalah serba sama yang memberikan konsekuensi yaitu Keberadaan Tak Berawal memiliki kemampuan (potensi) menunjukkan kemungkinan-kemungkinan jenis keberadaan berawal tertentu dengan tingkat kemungkinan-kemungkinan kesempurnaan yang juga sama di setiap bagiannya,</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://eureka.blogs.mu" target="_self">Home</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eureka.blogs.mu/2009/03/15/definition-of-god/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Logic &amp; Make Sense</title>
		<link>http://eureka.blogs.mu/2009/03/11/logic-make-sense/</link>
		<comments>http://eureka.blogs.mu/2009/03/11/logic-make-sense/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Mar 2009 09:07:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eureka</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Philosophy]]></category>

		<category><![CDATA[akal]]></category>

		<category><![CDATA[asosiasi]]></category>

		<category><![CDATA[feeling]]></category>

		<category><![CDATA[kering]]></category>

		<category><![CDATA[logic]]></category>

		<category><![CDATA[logis]]></category>

		<category><![CDATA[make]]></category>

		<category><![CDATA[masuk]]></category>

		<category><![CDATA[pemahaman]]></category>

		<category><![CDATA[penalaran]]></category>

		<category><![CDATA[pengandaian]]></category>

		<category><![CDATA[perasaan]]></category>

		<category><![CDATA[perumpamaan]]></category>

		<category><![CDATA[popular]]></category>

		<category><![CDATA[populer]]></category>

		<category><![CDATA[sense]]></category>

		<category><![CDATA[umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://seremonia.wordpress.com/?p=566</guid>
		<description><![CDATA[Penjelasan logis terkadang bagi sebagian orang terasa sedemikian kering di perasaan. Terkesan mekanis atau sejenisnya, lalu dianggap sebagai penjelasan yang tidak logis. Ini wajar karena spontanitas pertama kali bagi kita dalam menguji penalaran cenderung membandingkannya dengan penalaran sehari-hari. Penalaran sehari-hari sering bersinggungan (di asosiasikan) dengan peristiwa sehingga walaupun suatu penalaran yang umum pada dasarnya kering [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Penjelasan logis terkadang bagi sebagian orang terasa sedemikian kering di perasaan. Terkesan mekanis atau sejenisnya, lalu dianggap sebagai penjelasan yang tidak logis. Ini wajar karena spontanitas pertama kali bagi kita dalam menguji penalaran cenderung membandingkannya dengan penalaran sehari-hari. Penalaran sehari-hari sering bersinggungan (di asosiasikan) dengan peristiwa sehingga walaupun suatu penalaran yang umum pada dasarnya kering tetapi seolah dapat dirasakan sehingga dianggap masuk akal (atau yang sebenarnya adalah masuk di rasa), karena suatu penalaran di asosiasikan dengan suatu obyek atau perisitiwa.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-566"></span>Namun segera setelah anda mengetahui suatu pembuktian yang logis tidak dapat (atau sulit) dirasakan oleh perasaan, maka untuk beberapa saat (bisa sebentar, lama atau tidak jelas) akan sulit di pahami, kemudian akan dianggap tidak masuk akal (yang sebenarnya adalah tidak masuk di perasaan).</p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini sama sulitnya dengan memahami indahnya surga jika tidak di asosiasikan dengan kebahagiaan versi kehidupan sehari-hari. Bahkan kalaupun batasan tentang keindahan surga berusaha dijelaskan secara logis dengan perbandingan sebagai &#8220;lebih baik dari kehidupan di dunia sebelum nyawa melayang&#8221;, akan segera terlihat betapa keringnya penjelasan tersebut. Anda mungkin akan segera mengasosiasikan pernyataan tersebut dengan keindahan terindah yang pernah ada di muka bumi ini sejauh pemahaman anda, kemudian menaikkan kadarnya menjadi lebih lagi &#8230; atau entah dengan cara asosiasi  apa saja, sebagai salah satu cara memahami kadar keindahan surgawi.</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu sumber dari penjelasan logis yang banyak dianggap kering adalah penjelasan menggunakan logika matematika. Sebenarnya argumentasi menggunakan matematika atau bahkan disandarkan kepada fisika, kimia atau apa saja yang dianggap sebagai argumentasi kering, tidaklah benar-benar kering (sulit dirasakan), karena  dalam melakukan penalaran kita tidak pernah lepas dari simbol-simbol. Simbol-simbol ini dikaitkan dengan rumusan matematika, fisika atau rumusan jenis apa saja untuk menyatakan argumentasi tentang suatu hal.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang jadi masalah adalah ketika simbol-simbol argumentasi yang dipakai tidak populer (jarang dipergunakan) dalam kehidupan sehari-hari, atau sedemikian jauh dari obyek yang populer, sehingga dibutuhkan kerja keras dalam menelusuri simbol-simbol tersebut sampai kepada (mengasosiasikan) obyek yang populer (sering dipergunakan) dalam kehidupan sehari-hari. Butuh beberapa saat untuk memahaminya, baik secara logika maupun secara perasaan (yang menjadi sebab dianggap sebagai masuk akal).</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa orang cukup dapat menerima suatu argumentasi yang masuk akal walaupun mungkin sisi perasaannya belum dapat merasakan simbol-simbol argumentasi yang kurang populer (jarang dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari). Atau mungkin simbol-simbol yang dianggap kurang populer bagi sebagian orang telah dianggap biasa baginya (populer bagi dirinya sendiri).</p>
<p style="text-align: justify;"><span class="gen">Penjelasan melalui <strong><em>perumpamaan </em></strong>yang tepatlah yang menjadikan suatu penalaran yang terkesan kering dapat dirasakan kebenarannya, sehingga mudah dipahami ! Tetapi kalaupun tidak menemukan perumpamaan yang tepat bagi sebuah argumentasi, mungkin hanya belum ditemukan saja. Lagi pula tidak selalu suatu argumentasi sesuai bagi setiap orang ! Kita hanya dapat berdoa agar selalu diberi kepahaman atas hal yang sulit sejauh itu dirasa penting. Dan seberapa penting sesuatu itu ? Sekali lagi berdoalah agar kita terhindar dari kesia-siaan.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span class="gen"><a href="http://eureka.blogs.mu" target="_self">Home</a><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eureka.blogs.mu/2009/03/11/logic-make-sense/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>There is Only One God !</title>
		<link>http://eureka.blogs.mu/2009/03/11/there-is-only-one-god/</link>
		<comments>http://eureka.blogs.mu/2009/03/11/there-is-only-one-god/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Mar 2009 09:03:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eureka</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Philosophy]]></category>

		<category><![CDATA[atom]]></category>

		<category><![CDATA[atribute]]></category>

		<category><![CDATA[bagian]]></category>

		<category><![CDATA[batasan]]></category>

		<category><![CDATA[berawal]]></category>

		<category><![CDATA[boundaries]]></category>

		<category><![CDATA[boundary]]></category>

		<category><![CDATA[closest]]></category>

		<category><![CDATA[function]]></category>

		<category><![CDATA[fungsi]]></category>

		<category><![CDATA[getaran]]></category>

		<category><![CDATA[God]]></category>

		<category><![CDATA[keberadaan]]></category>

		<category><![CDATA[keterpisahan]]></category>

		<category><![CDATA[ketiadaan]]></category>

		<category><![CDATA[ketuhanan]]></category>

		<category><![CDATA[ketunggalan]]></category>

		<category><![CDATA[limit]]></category>

		<category><![CDATA[luas]]></category>

		<category><![CDATA[one]]></category>

		<category><![CDATA[only]]></category>

		<category><![CDATA[particles]]></category>

		<category><![CDATA[partikel]]></category>

		<category><![CDATA[pendaran]]></category>

		<category><![CDATA[pergerakan]]></category>

		<category><![CDATA[pergeseran]]></category>

		<category><![CDATA[sama]]></category>

		<category><![CDATA[satu]]></category>

		<category><![CDATA[separate]]></category>

		<category><![CDATA[separation]]></category>

		<category><![CDATA[serba]]></category>

		<category><![CDATA[tak]]></category>

		<category><![CDATA[teologi]]></category>

		<category><![CDATA[terbatas]]></category>

		<category><![CDATA[terdekat]]></category>

		<category><![CDATA[terkecil]]></category>

		<category><![CDATA[terluar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://seremonia.wordpress.com/?p=643</guid>
		<description><![CDATA[Sebaiknya simaklah terlebih dahulu tentang pembuktian keberadaan Tuhan (There is God !) sebelum menelaah artikel ini.
Sebagaimana telah dinyatakan tentang pembuktian adanya &#8220;KEBERADAAN TAK BERAWAL&#8221;, tentu ini memberikan konsekuensi lebih lanjut yaitu adanya kemungkinan lebih dari satu &#8220;KEBERADAAN TAK BERAWAL&#8221;, dimana masing-masing dari keberadaan tak berawal tersebut boleh jadi merupakan keberadaan tak berawal bagi keberawalan seluruh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;">Sebaiknya simaklah terlebih dahulu tentang pembuktian keberadaan Tuhan (<a href="http://seremonia.net/?p=570" target="_self">There is God !</a>) sebelum menelaah artikel ini.</p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;">Sebagaimana telah dinyatakan tentang pembuktian adanya &#8220;KEBERADAAN TAK BERAWAL&#8221;, tentu ini memberikan konsekuensi lebih lanjut yaitu adanya kemungkinan lebih dari satu &#8220;KEBERADAAN TAK BERAWAL&#8221;, dimana masing-masing dari keberadaan tak berawal tersebut boleh jadi merupakan keberadaan tak berawal bagi keberawalan seluruh jenis kucing, atau bakteri, atau lainnya apapun itu (seolah-olah ada tuhannya kucing, tuhannya bakteri, tuhannya batu, setiap sesuatu dengan tuhannya sendiri-sendiri atau bahkan tuhannya alam - alam semesta). Yang masing-masing dari tuhan ini juga dapat dianggap sebagai tak berawal.</p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;">Konsekuensi atas dugaan adanya banyak keberadaan tak berawal (lebih dari satu) ini telah dipikirkan beberapa tahun setelah mengetahui adanya bukti &#8220;KEBERADAAN TAK BERAWAL&#8221;. Dan setelah saya temukan argumentasinya serta sekali lagi belum adanya pembahasan dengan pola kedalaman seperti yang telah saya eksplorasi, maka pada akhirnya pembuktian hanya ada satu keberadaan tak berawal saya publikasi.</p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;">Argumentasi ini mungkin tidak sesuai bagi setiap orang, karena masing-masing pribadi memiliki kecenderungan yang berbeda dalam menanggapi tentang argumentasi seperti apa yang sesuai bagi setiap pribadi. Ini bukan masalah, dan memang tidak setiap pribadi dapat sesuai untuk keseluruhan pribadi.</p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span id="more-643"></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;">
<p class="MsoBodyText" style="text-align:center;"><strong><span style="color:black;">KETUNGGALAN KEBERADAAN TAK BERAWAL</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:center;"><strong><em><span style="color:black;">(Analisa Batasan Secara Matematis)</span></em></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color:black;">Keberadaan memiliki luas sedangkan ketiadaaan tidak memiliki luas sehingga ketiadaan tidak dapat berada di antara dua keberadaan serta tidak ada yang masuk menuju ketiadaaan dan tidak ada yang keluar dari ketiadaan.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align: justify;">Keberadaan berawal adalah bagian dari keberadaan tak berawal, sehingga luas keberadaan berawal bukanlah merupakan pertambahan dari luas keberadaan tak berawal, dan ini menegaskan bahwa keberadaan berawal tidaklah berdampingan sedekat atau sejauh apapun dengan keberadaan tak berawal.</p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align: justify;">Jika ada dua keberadaan tak berawal, maka satu keberadaan tak berawal terhadap keberadaan tak berawal lainnya saling membatasi pada batas terluar dari masing-masing keberadaan tak berawal tersebut. Hal ini menegaskan konsekuensi lebih lanjut tentang kemungkinan-kemungkinan dari saling membatasi di antara keduanya.</p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><strong>Pembuktian Kontradiktif, </strong><strong>Kedekatan versi 1 </strong><strong>(Penyatuan)</strong>:</p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">Jika ada nilai “x” sebagai batas terluar dari satu bagian keberadaan tak berawal melampaui batas dari nilai &#8220;y&#8221; sebagai batas terluar dari satu bagian keberadaan tak berawal ke-2, maka ke-duanya bukan lagi sebagai dua bagian keberadaan tak berawal, melainkan sebagai satu bagian (serba sama) keberadaan tak berawal.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><strong>Pembuktian Kontradiktif, </strong><strong>Kedekatan versi 2 </strong><strong>(Berkesinambungan):</strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">Jika ada nilai “x” sebagai batas terluar dari satu bagian keberadaan tak berawal yang berada di posisi dari nilai &#8220;y&#8221; sebagai batas terluar dari satu bagian keberadaan tak berawal ke-2, maka ke-duanya saling berkesinambungan menjadi satu kesatuan (serba sama) keberadaan tak berawal.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><strong>Pembuktian Kemustahilan, </strong><strong>Kedekatan versi 3 </strong><strong>(Saling Berdekatan):</strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">Jika ada nilai “x” sedemikian dekat dengan nilai “y” tanpa mengambil harga “y” maka selalu terdapat nilai selisih sebagai akibat dari pengurangan nilai “y” oleh nilai “x” (karena ketidak-sepadanannya antara nilai &#8220;x&#8221; terhadap nilai &#8220;y&#8221;), sehingga jika ada keberadaan tak berawal dengan batasan terjauhnya di lokasi “x” sedemikian dekat dengan batasan terjauh dari keberadaan tak berawal lainnya di lokasi “y”,</span><span style="color:black;"> </span><span style="color:black;">maka selalu ada jarak sekecil atau sebesar berapapun di antara dua keberadaan tak berawal yang saling berdekatan sedekat apapun tersebut dan hal ini memberikan empat kemungkinan konsekuensi yaitu: </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">1. Adanya luas seukuran berapapun (keberadaan) yang merupakan luas perpanjangan dari salah satu keberadaan tak berawal yang mana saja di antara keduanya dan hal ini adalah merupakan kemustahilan karena luas tidak dapat bertambah hanya oleh dirinya sendiri, </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">2. Adanya luas seukuran berapapun (keberadaan) yang merupakan luas dari sesuatu keberadaan tak berawal ke-tiga yang terletak di antara dua keberadaan tak berawal yang saling berdekatan sedekat apapun tersebut mengisyaratkan adanya batas luar tambahan lainnya dari keberadaan tak berawal yang telah ada sebelumnya, demikian seterusnya yang menyatakan adanya penambahan yang tak berkesudahan yang merupakan kemustahilan, </span></p>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Jika penambahan keberadaan tak berkesudahan adalah merupakan penambahan keberadaan tak berawal, maka hal ini merupakan kontradiksi karena keberadaan tak berawal tidak di awali oleh keberadaan lainnya (keberadaan tak berawal bukanlah merupakan salah satu keberadaan  dari mata rantai penambahan keberadaan). Atau dengan pengertian yang setara, bahwa penambahan keberadaan menegaskan keberawalan dari suatu keberadaan,</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">sedangkan jika penambahan keberadaan tak berkesudahan adalah merupakan penambahan keberadaan berawal, maka hal ini menegaskan pertambahan keberadaan berawal di luar dari keberadaan tak berawal yang merupakan kemustahilan.</li>
</ul>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">3. Adanya luas seukuran berapapun yang merupakan luas perpanjangan dari salah satu keberadaan berawal yang mana saja di antara dua keberadaan berawal yang saling berdekatan dan hal ini adalah merupakan kemustahilan karena luas di antara dua keberadaan berawal yang saling berdekatan tersebut adalah luas dari keberadaan tak berawal itu sendiri (keberadaan berawal selalu berawal dari dalam keberadaan tak berawal, karena jika dianggap ada lebih dari satu keberadaan tak berawal, maka keseluruhan luas hanya diliputi oleh keberadaan tak berawal), </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">4. Adanya luas seukuran berapapun yang merupakan luas dari sesuatu keberadaan tak berawal yang tidak hanya berada di antara dua keberadaan tak berawal melainkan meliputi kedua keberadaan tak berawal yang dimaksud dan hal ini menegaskan tidak adanya segmentasi berulang (penambahan) keberadaan yang tak berkesudahan.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">Semua hal di atas menegaskan beberapa hal yaitu: </span></p>
<pre style="padding-left:30px;text-align:justify;"><em><span style="color:black;">Kemustahilan bagi dugaan </span></em><em><span style="color:black;">kemungkinan kombinasi </span></em><em><span style="color:black;">posisi
(kedekatan) di antara dua keberadaan tak berawal, yang</span></em><em><span style="color:black;">
jika dipaksakan, maka justru:

1. Menegaskan ke-tunggalan-nya sebagai satu bagian
keberadaan tak berawal,</span></em>
<em><span style="color:black;">
2. Konsekuensi adanya</span></em><em><span style="color:black;"> segmentasi berulang (penambahan)
keberadaan tak berawal yang tak berkesudahan yang merupakan
kemustahilan, kecuali dengan menyatakan kebalikannya sebagai
hanya ada satu bagian keberadaan tak berawal,

3. Sedangkan keanekaragaman keberadaan yang berawal dan
bersandar pada satu keberadaan tak berawal hanyalah
menampakkan </span></em><em><span style="color:black;">batasan relative (</span></em><em><span style="color:black;">(merupakan atribut - limit)
</span></em><em><span style="color:black;">yang memungkinkan adanya segmentasi berulang (penambahan)
keberadaan berawal namun berkesudahan yang bukan merupakan
kemustahilan.

</span></em><em><span style="color:black;">Hal ini memastikan bahwa hanya ada Satu Keberadaan Tak
Berawal yang merupakan Keberadaan Tak Berawal tanpa
sesuatu keberadaan tak berawal lainnya di atas maupun
di bawah juga disebelah manapun dari Satu Keberadaan
Tak Berawal tersebut,</span></em><span style="color:black;"> </span></pre>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="color:black;"> <em>Dengan pengertian yaitu:</em></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="color:black;"> </span><em><span style="color:black;">HANYA ADA <strong>SATU KEBERADAAN TAK BERAWAL</strong> &amp; ADA <strong>BANYAK KEMUNGKINAN PENAMPAKAN YANG MERUPAKAN KEBERADAAN BERAWAL</strong> (yang merupakan atribut - limit - dari Keberadaan Tak Berawal), sehingga keanekaan keberadaan berawal tidak menggugurkan Ketunggalan Keberadaan Tak Berawal yang menjadi sandaran bagi keanekaan keberadaan berawal tersebut.</span></em><span style="color:black;"> </span></p>
<h3 style="text-align: justify;"><span style="font-size: small;">18 Maret 2005, 07:30<br />
</span></h3>
<p><span style="font-size: small;"><br />
</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;">
<h3 style="text-align:center;">Konsekuensi-Konsekuensi Lebih Lanjut</h3>
<p style="text-align:justify;">Setelah anda memahami akan adanya keberadaan tak berawal dan hanya ada satu keberadaan tak berawal, maka hal-hal tersebut memberikan pemahaman lebih lanjut. Beberapa tidak dapat saya jelaskan lebih detail melainkan anda harus memahami lebih detail terhadap pembuktian adanya Satu Keberadaan Tak Berawal. Mungkin jika ada waktu akan dibahas lebih lanjut. Di antaranya sebagai berikut:</p>
<p style="padding-left:30px;text-align:justify;">1. Wujud adalah pendaran berulang-ulang dari sifat (perbuatan) secara terus menerus yang membentuk suatu pola tertentu yang kita amati sebagai wujud (seberapa keraspun atau seberapa haluspun wujud tersebut). Dimana satu wujud dibentuk oleh rajutan satu atau beragam pendaran sifat-sifat (atribut - limit) dari keberadaan tak berawal di suatu lokasi tertentu. Atau dengan kata lain, suatu wujud dibentuk oleh sejumlah perbuatan - aksi yang sebenarnya merupakan atribut atau sifat-sifat dari Keberadaan Tak Berawal itu sendiri.</p>
<p style="padding-left:30px;text-align:justify;">Jadi, satuan terkecil bukanlah sejenis atom, atau partikel kecil lainnya melainkan adalah perbuatan dari Keberadaan Tak Berawal. Untuk setiap kehendak dari keberadaan berawal yang terwujud melibatkan (merupakan) sekumpulan perbuatan yang sedemikian rupa sehingga terkesan adanya wujud tertentu.</p>
<p style="padding-left:30px;text-align:justify;">2. Pendaran berulang-ulang dari sifat (perbuatan) berada pada dua pergantian yaitu antara ada-tiada (tersirat) atau bagaikan on-off atau getaran (karena jika on terus maka tidak ada perubahan pola dan jika off terus maka tidak ada wujud yang terdeteksi oleh kita) dan dapat mensimulasikan pergerakan dengan cara memindahkan pendaran di sisi lain dari satu lokasi ke lokasi lain tanpa ada secuilpun pergeseran, desakan terhadap apapun (tidak adanya pergerakan). Untuk selanjutnya penggunaan pergerakan saya maksudkan adalah sebagaimana yang telah ditegaskan ini.</p>
<p style="padding-left:30px;text-align:justify;">3. Tidak ada ruang hampa atau kosong. Definisi ruang hampa atau kosong harus di definisikan ulang sebagai keberadaan yang sama padatnya dengan keberadaan lainnya. Perbedaannya antara ruang yang dianggap kosong dengan yang tidak adalah bahwa ruang hampa dalam level tertentu dinampakkan sebagai area yang bersih dari objek-objek yang dianggap umum (yang dianggap dapat di deteksi) serta diberlakukan perijinan (hukum) untuk mensimulasikan perjalanan di dalamnya. Ruang hampa atau ruang kosong memiliki potensi untuk berubah menjadi wujud sama dengan ruang yang dianggap padat lainnya (yang juga dapat berubah menjadi - merupakan - ruang kosong).</p>
<p style="padding-left:30px;text-align:justify;">4. Perjalanan singkat dari satu tempat ke tempat lain adalah merupakan pelenyapan dari satu pola wujud tertentu (yang terbentuk dari satu atau sejumlah pendaran sifat) untuk diwujudkan di suatu ruang yang dianggap kosong di suatu lokasi tertentu lainnya (juga melalui pembentukan pendaran sifat secara berulang-ulang dengan menggunakan bahan dari ruang kosong di tempat tertentu yang baru itu sendiri).</p>
<p style="padding-left:30px;text-align:justify;">5. Keberadaan tak berawal walaupun dapat menunjukkan keanekaragaman (perbedaan) melalui sifat-sifatnya (atribut-atributnya, limit-limitnya) dalam bentuk keanekaragaman keberadaan berawal, namun sebagai satu keberadaan tak berawal yang merupakan SATU BAGIAN, menegaskan ke-SATU BAGIAN-nya dari Keberadaan Tak Berawal adalah sama di segala penjuru bagiannya.</p>
<p style="text-align:justify">Ini menegaskan pula bahwa secara mendasar Keberadaan Tak Berawal itu sendiri ke segala penjuru terhadap gaya-gayanya, ataupun potensi-potensi serta kemungkinan - kemungkinannya adalah serba sama yang memberikan konsekuensi yaitu Keberadaan Tak Berawal memiliki kemampuan (potensi) menunjukkan kemungkinan-kemungkinan jenis keberadaan berawal tertentu dengan tingkat kemungkinan-kemungkinan kesempurnaan yang juga sama di setiap bagiannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eureka.blogs.mu/2009/03/11/there-is-only-one-god/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>There is God !</title>
		<link>http://eureka.blogs.mu/2009/03/11/there-is-god/</link>
		<comments>http://eureka.blogs.mu/2009/03/11/there-is-god/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Mar 2009 09:00:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eureka</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Philosophy]]></category>

		<category><![CDATA[akar]]></category>

		<category><![CDATA[arah]]></category>

		<category><![CDATA[ateis]]></category>

		<category><![CDATA[atheisme]]></category>

		<category><![CDATA[back]]></category>

		<category><![CDATA[batas]]></category>

		<category><![CDATA[berawal]]></category>

		<category><![CDATA[consequence]]></category>

		<category><![CDATA[creation]]></category>

		<category><![CDATA[creator]]></category>

		<category><![CDATA[existence]]></category>

		<category><![CDATA[first]]></category>

		<category><![CDATA[God]]></category>

		<category><![CDATA[keberadaan]]></category>

		<category><![CDATA[ketuhanan]]></category>

		<category><![CDATA[konsekuensi]]></category>

		<category><![CDATA[limited]]></category>

		<category><![CDATA[menciptakan]]></category>

		<category><![CDATA[mundur]]></category>

		<category><![CDATA[pattern]]></category>

		<category><![CDATA[penciptaan]]></category>

		<category><![CDATA[penelusuran]]></category>

		<category><![CDATA[pola]]></category>

		<category><![CDATA[ranah]]></category>

		<category><![CDATA[root]]></category>

		<category><![CDATA[temu]]></category>

		<category><![CDATA[teologi]]></category>

		<category><![CDATA[terbatas]]></category>

		<category><![CDATA[there]]></category>

		<category><![CDATA[titik]]></category>

		<category><![CDATA[track]]></category>

		<category><![CDATA[trackback]]></category>

		<category><![CDATA[tuhan]]></category>

		<category><![CDATA[ujung]]></category>

		<category><![CDATA[unlimited]]></category>

		<category><![CDATA[vector]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://seremonia.wordpress.com/?p=570</guid>
		<description><![CDATA[Setelah sekian lama mencari kebenaran dan akhirnya menemukan bukti kebenaran keberadaan Tuhan, &#8230; dan setelah mengetahui belum adanya argumentasi dengan eksplorasi pola kedalaman seperti yang telah saya ekplorasi, maka saya memulai publikasi ini. Anda dapat menambah wawasan dengan membaca argumentasi dari Aristotle dan lainnya.
Argumentasi ini menyempurnakan argumentasi yang mungkin telah anda kenal yaitu: &#8220;karena penelusuran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Setelah sekian lama mencari kebenaran dan akhirnya menemukan bukti kebenaran keberadaan Tuhan, &#8230; dan setelah mengetahui belum adanya argumentasi dengan eksplorasi pola kedalaman seperti yang telah saya ekplorasi, maka saya memulai publikasi ini. Anda dapat menambah wawasan dengan membaca argumentasi dari Aristotle dan lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Argumentasi ini menyempurnakan argumentasi yang mungkin telah anda kenal yaitu: &#8220;karena penelusuran mundur tak terbatas tidak mungkin, maka akan berakhir kepada Sesuatu yang paling awal (Tuhan)&#8221;, dimana penyempurnaan dilakukan <em><strong>dengan meniadakan</strong></em> alasan yang bersandar kepada ketidak-terbatasan.  <span id="more-570"></span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; text-align: center;"><span style="color:#000000"><strong>KEBERADAAN TAK BERAWAL ITU ADA</strong></span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; text-align: center;"><span style="color:#000000"><em><strong>(Konsekuensi Penelusuran Mundur)</strong></em></span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"><span style="color:#000000">Keberadaan sesuatu berasal dari keberadaan sesuatu yang lain dan keberadaan sesuatu yang lain berasal dari keberadaan sesuatu yang lain lagi demikian seterusnya sehingga membentuk sesuatu pola penelusuran mundur yang dimulai dari akibat lalu mundur menuju sebab dengan pola penelusuran mundur yang boleh jadi tak berkesudahan.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; padding-left: 30px; text-align: justify;"><span style="color:#000000"> x &lt;&#8211;(berasal dari)&#8211; ~ [tak terbatas]</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"><span style="color:#000000">Dengan mengandaikan bahwa dari “x” tidak muncul keberadaan sesuatu yang lain maka batas yang paling kiri berada pada “x” (akibat) dengan penelusuran mundur ke arah kanan (sebab) menjauhi “x”.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"><span style="color:#000000">Pertanyaannya sekarang adalah apakah pada saat ini dapat terjadi penciptaan ? Ada dua kemungkinan jawaban yaitu:</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; padding-left: 30px; text-align: justify;"><span style="color:#000000">1. Jika 	tidak dimungkinkan terjadinya penciptaan berarti tidak ada perubahan 	jumlah keberadaan sehingga jumlah keberadaan dihitung dari “x” 	(akibat) lalu mundur ke arah kanan (sebab) menjauhi “x” adalah 	sebesar tertentu yang tak bertambah,</span></p>
<p style="padding-left: 210px; text-align: justify;"><span style="color:#000000"> </span></p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;"><span style="color:#000000"> x &lt;&#8211;(mundur ke arah)&#8211;  ! [terbatas] , <em>yang berarti</em> &#8230;<br />
</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; padding-left: 30px; text-align: justify;"><span style="color:#000000"> x &lt;&#8211;(berasal dari)&#8211; ! [titik paling awal]</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; padding-left: 30px; text-align: justify;"><span style="color:#000000">2. </span><span style="color:#000000">Kalaupun 	dinyatakan bahwa dimungkinkan terjadinya penciptaan berarti ada 	penambahan yang mengakibatkan terbentuknya dua arah 	penelusuran mundur yaitu pertama: dari “x” (akibat) menuju ke arah kanan 	&#8220;?&#8221; (sebab - titik tertentu ke-1), dan yang kedua: dari &#8220;y&#8221; </span><span style="color:#000000">(titik tertentu ke-2) yang terletak </span><span style="color:#000000">di posisi urutan setelah “?” (titik tertentu ke-1) menuju ke 	arah kiri (menuju ke arah &#8220;?&#8221; sekaligus juga menuju ke arah &#8220;x&#8221;).</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; padding-left: 30px; text-align: justify;"><span style="color:#000000"> x  &lt;&#8211;</span><span style="color:#000000">(berasal dari)&#8211; ? </span><span style="color:#000000">&#8211;</span><span style="color:#000000">(menciptakan)&#8211;</span><span style="color:#000000">&gt; y [titik tertentu ke-2] , </span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; padding-left: 30px; text-align: justify;"><span style="color:#000000"><em>yang berarti</em> &#8230;<br />
</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; padding-left: 30px; text-align: justify;"><span style="color:#000000"> </span><span style="color:#000000">x  &lt;&#8211;(mundur ke arah)&#8211; ? [titik tertentu ke-1] , <em>dan</em> &#8230;<br />
</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; padding-left: 30px; text-align: justify;"><span style="color:#000000"> y</span><span style="color:#000000"> &lt;&#8211;(mundur ke arah)&#8211; x , <em>konsekuensinya</em> &#8230;<br />
</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; padding-left: 30px; text-align: justify;"><span style="color:#000000"> x &#8211;(bertemu di)&#8211;&gt; ? [titik tertentu ke-1] , <em>dan</em> &#8230;<br />
</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; padding-left: 30px; text-align: justify;"><span style="color:#000000"> y &#8211;(bertemu di)&#8211;&gt; ? [titik tertentu 1] , <em>sehingga</em> &#8230;</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; padding-left: 30px; text-align: justify;"><span style="color:#000000">kedua penelusuran mundur berakhir (terbatasi) di satu titik temu (titik paling awal) &#8230;</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; padding-left: 30px; text-align: justify;"><span style="color:#000000"> x &#8212;-&gt; ? [titik tertentu ke-1 sebagai titik temu] &lt;&#8212;- y [titik tertentu ke-2]<br />
</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"><span style="color:#000000">Bagaimanapun penelusuran diusahakan selalu menunjukkan (menuju ke) titik akhir yang merupakan batas sebagai titik paling awal. Kebenaran ini menegaskan bahwa pola penelusuran mundur yang dimulai dari akibat lalu mundur menuju sebab dengan pola mundur yang tak berkesudahan adalah merupakan kemustahilan sehingga yang benar adalah bahwa pola penelusuran mundur yang dimulai dari akibat lalu mundur menuju sebab adalah merupakan pola penelusuran mundur yang tidak tak berkesudahan sebagaimana yang telah dibuktikan melalui beberapa kebenaran di atas dan hal ini menegaskan secara pasti adanya Keberadaaan Tak Berawal yang bukan merupakan akibat dari sebab yang manapun.</span></p>
<h3 style="text-align: justify;"><span style="font-size:small">1 Januari 2000 ~ 20 April 2003, 03:00</span></h3>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://eureka.blogs.mu" target="_self"> Home</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eureka.blogs.mu/2009/03/11/there-is-god/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Debate</title>
		<link>http://eureka.blogs.mu/2009/03/11/debate/</link>
		<comments>http://eureka.blogs.mu/2009/03/11/debate/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Mar 2009 04:15:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eureka</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Philosophy]]></category>

		<category><![CDATA[Self Improvement]]></category>

		<category><![CDATA[adab]]></category>

		<category><![CDATA[argumentasi]]></category>

		<category><![CDATA[cara]]></category>

		<category><![CDATA[debate]]></category>

		<category><![CDATA[diskursus]]></category>

		<category><![CDATA[diskusi]]></category>

		<category><![CDATA[kebenaran]]></category>

		<category><![CDATA[keberhasilan]]></category>

		<category><![CDATA[kenyataan]]></category>

		<category><![CDATA[kerendah]]></category>

		<category><![CDATA[kesabaran]]></category>

		<category><![CDATA[kesia-siaan]]></category>

		<category><![CDATA[ketegasan]]></category>

		<category><![CDATA[ketulusan]]></category>

		<category><![CDATA[metode]]></category>

		<category><![CDATA[metodologi]]></category>

		<category><![CDATA[pembahasan]]></category>

		<category><![CDATA[pemecahan]]></category>

		<category><![CDATA[penegasan]]></category>

		<category><![CDATA[pengaturan]]></category>

		<category><![CDATA[pengawasan]]></category>

		<category><![CDATA[perdebatan]]></category>

		<category><![CDATA[perhatian]]></category>

		<category><![CDATA[solusi]]></category>

		<category><![CDATA[strategi]]></category>

		<category><![CDATA[taktik]]></category>

		<category><![CDATA[trik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://seremonia.wordpress.com/?p=552</guid>
		<description><![CDATA[Sampai seberapa jauh perdebatan diperlukan ? Pada kenyataannya selalu ada pihak yang tidak puas hanya sekedar penjelasan seperlunya tanpa perdebatan. Ini tidak berarti perdebatan - bahkan walaupun demi alasan membela kebenaran - berada dalam prioritas utama memberikan penegasan tentang suatu kebenaran, melainkan sebagai jalan terakhir ketika beberapa orang merasa sedemikian sulit melihat kesederhanaan kebenaran dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sampai seberapa jauh perdebatan diperlukan ? Pada kenyataannya selalu ada pihak yang tidak puas hanya sekedar penjelasan seperlunya tanpa perdebatan. Ini tidak berarti perdebatan - bahkan walaupun demi alasan membela kebenaran - berada dalam prioritas utama memberikan penegasan tentang suatu kebenaran, melainkan sebagai jalan terakhir ketika beberapa orang merasa sedemikian sulit melihat kesederhanaan kebenaran dalam hal apa saja.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-552"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Itupun hanya ditujukan secara khusus kepada pihak yang mungkin tidak menyukai perdebatan tetapi watak bawaannya siap untuk menelaah esensi suatu perdebatan.  Tetapi bahkan di masa dahulu ketika filsafat memasuki umat Islam, mau tidak mau senjata terakhir menghadapi perdebatan keimanan adalah perdebatan itu sendiri. Namun seperti yang telah dikatakan sebelumnya, bahwa perdebatan seharusnya bukanlah priroritas utama dalam mencari solusi pemahaman.</p>
<p style="text-align: justify;">Perdebatan adalah merupakan pemenuhan satu sisi keseimbangan dalam memahami sesuatu.  Dan adalah benar (walaupun tidak selalu, karena suatu ketika perdebatan pasti menghadang kita) bahwa harus kita budayakan cara yang lebih mudah selain dari perdebatan sebagai batasan keras jauh sebelum digunakan cara terakhir yaitu perdebatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang perlu ditegaskan disini bukanlah meniadakan sama sekali perdebatan sebagai cara buruk atau terburuk dalam memahami sesuatu atau untuk tujuan apapun, melainkan meletakkannya secara hati-hati pada prioritas yang tepat sesuai situasi dan kondisi, karena apa saja jika diletakkan pada tempatnya secara bijaksana maka tidak akan lagi terlihat, mana yang benar dan mana yang salah, melainkan hanyalah keserasian.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi apakah hal ini telah kita lakukan ? Sayangnya saya secara pribadi tidak akan pernah mengetahuinya. Untuk itu kita harus sering memohon ampun kepada Allah jika dalam segala kebijaksanaan tindakan dirasa kurang tepat.  Kita hanyalah manusia bodoh yang berusaha agar selalu tepat dalam tindakan, Amin.</p>
<p style="text-align: justify;">Perdebatan hanya akan menjadi senjata terakhir yang penuh hikmah dalam memperoleh kebenaran hanya jika beberapa hal dilaksanakan dengan sedemikian ketat:</p>
<p style="text-align: justify;">1. <strong><em>Adab kerendah-hatian</em></strong>: (karena kita juga belum mengetahui sampai seberapa jauh kualitas dari solusi yang ditawarkan oleh diri sendiri), dengan menghindari caci-maki dan tindakan keangkuhan dalam bentuk apapun. Untuk yang satu ini anda bahkan kita tidak dapat menipu Allah tentang sampai seberapa jauh hal ini (debat atas dasar kerendah-hatian) dapat terlaksana.</p>
<p style="text-align: justify;">Boleh jadi anda melakukan perdebatan atas nama kebenaran, tetapi segera setelah terlihat anda mengacungkan jari, berkacak pinggang atau sikap merasa benar atau terkesan memaksakan kehendak lainnya, maka kita telah terjebak dalam keangkuhan. Mungkin kita berada di posisi yang benar, tetapi seolah-olah - kalaupun solusi kita terpakai - hanya seperti martir, dimana orang lain menikmati kebenaran solusi kita, tetapi pahala atau cinta-kasih yang merupakan <em><strong>penghargaan dari Allah</strong></em> tidak kita dapatkan.</p>
<p style="text-align: justify;">2.  <strong>Adab kesabaran</strong>: (kita tidak pernah mengetahui kemampuan daya nalar - pemahaman - lawan bicara kita), berusahalah semampu kita mengukur sampai seberapa jauh lawan bicara kita memahami apa yang kita utarakan, atau melihat kembali kepada diri sendiri tentang kemungkinan (justru) diri kita sendiri yang belum memahami permasalahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak segan untuk meminta penjelasan terhadap lawan bicara agar komunikasi dapat tetap berlangsung. Cobalah menggunakan penjelasan yang logis atau cara lainnya yang dianggap <strong><em>dapat saling dipahami</em></strong>.</p>
<p style="text-align: justify;">3. <strong>Adab Prioritas</strong>: (masih ada hari esok), lihatlah seberapa penting perdebatan harus dilaksanakan. Jangan sampai mengorbankan hal-hal lain yang lebih utama. Dan kalaupun perdebatan dianggap harus dituntaskan karena menyangkut hal penting, teliti lagi apakah sedemikian penting ?</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk menentukan seberapa penting prioritas suatu topik dalam perdebatan, cobalah bertanya dahulu sebelum berdebat, apa saja dalam kehidupan anda pribadi di masa sekarang yang harus dijaga dan harus segera ditindak-lanjuti ? Kemudian pastikan apakah perdebatan yang akan anda lakukan tidak mengabaikan hal ini. Lalu pastikan juga dampaknya secara meluas. Dan yang paling penting adalah perlu diketahui bahwa solusi apapun akan sulit diketahui kesempurnaannya, jadi yang dicari adalah solusi dengan <strong><em>resiko seminim mungkin</em></strong>.</p>
<p style="text-align: justify;">4. <em><strong>Adab Ketulusan</strong></em> : Sudahkah kita melakukan perdebatan dengan dilandasi oleh ketulusan ?</p>
<p style="text-align: justify;">5. <em><strong>Adab Pengawasan Hati</strong></em>: (ini adalah elemen yang terpenting untuk mawas diri), yaitu setelah anda selesai melakukan perdebatan dengan hasil akhir: memuaskan atau ditunda atau status apapun itu, lakukanlah <strong><em>cek terhadap batin anda:</em></strong></p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Apakah ketulusan anda berkurang ?</li>
<li>Apakah kerendah-hatian anda berkurang  ?</li>
<li>Apakah kesabaran anda berkurang ?</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Jika hal ini berkurang dari kebiasaan anda sehari-hari berarti ada yang kurang tepat dalam melakukan perdebatan ! Dan jika bertambah (semakin rendah-hati, semakin sabar atau semakin tulus mewarnai kehidupan anda sehari-hari) maka perdebatan memiliki nilai lebih. Dan kalau nilai-nilai tersebut tetap kadarnya sebagaimana mewarnai di kehidupan anda sehari-hari, konsekuensinya boleh jadi anda telah melakukan kesia-siaan atau boleh jadi bukan kesia-siaan di pihak lawan anda (jika ini benar atau tidak anda ketahui), maka hanya berharap saja agar anda tidak melakukan kesia-siaan. <em>Bahkan ini dapat diterapkan di segala segi kehidupan kita. </em><em>Dan untuk semuanya ini anda tidak dapat menipu Allah, anda mengetahui dengan pasti terhadap diri anda sendiri !<br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya masih ada banyak adab lainnya dalam perdebatan, saya dan anda dapat menambahkan sendiri sejauh pemahaman anda dan saya sendiri. Semoga kita selalu mendapatkan kebijaksanaan, Amin.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://eureka.blogs.mu" target="_self">Home</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eureka.blogs.mu/2009/03/11/debate/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
