Well Defined

Ketika seseorang mendefinisikan sesuatu, sebenarnya itu adalah mengkaitkan sesuatu yang didefinisikan dengan kenyataan lainnya yang dianggap memiliki kesesuaian dengan yang ada pada yang didefinisikan. Tidak mungkin anda mendefinisikan (menjelaskan) sesuatu dengan memakai alat bantu (bahasa atau sistem simbolik lainnya) yang sekecil berapa persenpun tidak ada kesesuaian dengan yang didefinisikan.

Lalu adakah definisi yang baik ? Tentu ada, tetapi tidak ada definisi yang tepat. Ini bukan berarti tidak ada sama sekali definisi yang dianggap layak (berdasarkan kaidah-kaidah pendefinisian), melainkan hanya menegaskan jangkauan dari definisi yang dianggap layak. Dengan pengertian bahwa ada definisi yang baik, dan kalaupun ada definisi yang tepat … itu adalah merupakan definisi yang konsisten dalam jangkauan tertentu tetapi tidak menyeluruh.

Continue reading »

Synchronization … Atheism & Religions

Sejauh pengetahuan saya ada empat agama yang diakui yaitu Islam, Kristen/Katolik, Hindu & Budha, atau boleh juga dianggap ada agama-agama lainnya sejauh pengukuhan tersebut juga menegaskan keberadaan Tuhan.

Agama-agama ini dalam perbincangannya dengan kaum ateis cenderung berada pada posisi bertahan (atau mungkin tidak) membela Tuhan dengan definisi Tuhannya masing-masing. Ini bukan masalah sejauh dikembalikan kepada agama masing-masing (saling menghargai). Sedangkan kaum ateis cenderung menolak definisi dari masing-masing agama tentang Tuhan.

Bukankah sekarang saatnya kita berusaha balik bertanya …

Continue reading »

Definition of God

Untuk lebih memahami artikel di bawah ini anda harus memahami kebenaran tentang (There is God !) dan (There is Only One God !) terlebih dahulu.

Tuhan menurut saya adalah:

  1. Keberadaan yang paling awal, menjadi sebab bagi segala selain dari-Nya,
  2. Tidak ada keberadaan tak berawal lainnya disebelah manapun terhadap diri-Nya, Continue reading »

Logic & Make Sense

Penjelasan logis terkadang bagi sebagian orang terasa sedemikian kering di perasaan. Terkesan mekanis atau sejenisnya, lalu dianggap sebagai penjelasan yang tidak logis. Ini wajar karena spontanitas pertama kali bagi kita dalam menguji penalaran cenderung membandingkannya dengan penalaran sehari-hari. Penalaran sehari-hari sering bersinggungan (di asosiasikan) dengan peristiwa sehingga walaupun suatu penalaran yang umum pada dasarnya kering tetapi seolah dapat dirasakan sehingga dianggap masuk akal (atau yang sebenarnya adalah masuk di rasa), karena suatu penalaran di asosiasikan dengan suatu obyek atau perisitiwa.

Continue reading »

There is Only One God !

Sebaiknya simaklah terlebih dahulu tentang pembuktian keberadaan Tuhan (There is God !) sebelum menelaah artikel ini.

Sebagaimana telah dinyatakan tentang pembuktian adanya “KEBERADAAN TAK BERAWAL”, tentu ini memberikan konsekuensi lebih lanjut yaitu adanya kemungkinan lebih dari satu “KEBERADAAN TAK BERAWAL”, dimana masing-masing dari keberadaan tak berawal tersebut boleh jadi merupakan keberadaan tak berawal bagi keberawalan seluruh jenis kucing, atau bakteri, atau lainnya apapun itu (seolah-olah ada tuhannya kucing, tuhannya bakteri, tuhannya batu, setiap sesuatu dengan tuhannya sendiri-sendiri atau bahkan tuhannya alam - alam semesta). Yang masing-masing dari tuhan ini juga dapat dianggap sebagai tak berawal.

Konsekuensi atas dugaan adanya banyak keberadaan tak berawal (lebih dari satu) ini telah dipikirkan beberapa tahun setelah mengetahui adanya bukti “KEBERADAAN TAK BERAWAL”. Dan setelah saya temukan argumentasinya serta sekali lagi belum adanya pembahasan dengan pola kedalaman seperti yang telah saya eksplorasi, maka pada akhirnya pembuktian hanya ada satu keberadaan tak berawal saya publikasi.

Argumentasi ini mungkin tidak sesuai bagi setiap orang, karena masing-masing pribadi memiliki kecenderungan yang berbeda dalam menanggapi tentang argumentasi seperti apa yang sesuai bagi setiap pribadi. Ini bukan masalah, dan memang tidak setiap pribadi dapat sesuai untuk keseluruhan pribadi.

Continue reading »

There is God !

Setelah sekian lama mencari kebenaran dan akhirnya menemukan bukti kebenaran keberadaan Tuhan, … dan setelah mengetahui belum adanya argumentasi dengan eksplorasi pola kedalaman seperti yang telah saya ekplorasi, maka saya memulai publikasi ini. Anda dapat menambah wawasan dengan membaca argumentasi dari Aristotle dan lainnya.

Argumentasi ini menyempurnakan argumentasi yang mungkin telah anda kenal yaitu: “karena penelusuran mundur tak terbatas tidak mungkin, maka akan berakhir kepada Sesuatu yang paling awal (Tuhan)”, dimana penyempurnaan dilakukan dengan meniadakan alasan yang bersandar kepada ketidak-terbatasan. Continue reading »

Debate

Sampai seberapa jauh perdebatan diperlukan ? Pada kenyataannya selalu ada pihak yang tidak puas hanya sekedar penjelasan seperlunya tanpa perdebatan. Ini tidak berarti perdebatan - bahkan walaupun demi alasan membela kebenaran - berada dalam prioritas utama memberikan penegasan tentang suatu kebenaran, melainkan sebagai jalan terakhir ketika beberapa orang merasa sedemikian sulit melihat kesederhanaan kebenaran dalam hal apa saja.

Continue reading »

MONO-ATOM

January 20th, 2009  Tagged ,

AMSTERDAM, Netherlands — The original manuscript of a paper Albert Einstein published in 1925 has been found in the archives of Leiden University’s Lorentz Institute for Theoretical Physics, scholars said Saturday.

The German-language manuscript is titled “Quantum theory of the monatomic ideal gas,” and is dated December 1924. Considered one of Einstein’s last great breakthroughs, it was published in the proceedings of the Prussian Academy of Sciences in Berlin in January, 1925.

Continue reading »

The Vision of God

January 20th, 2009  Tagged

by Michel Chodkiewicz

‘You shall not see Me!’ (lan tarânî). The divine reply to Moses’ request (arinî unzur ilayka) ‘Let me see, so that I can behold You’, Q. 7:143), seems final. It is no less categorical in its formulation than the one that Exodus gives in a parallel account (Ex. 33:18-23):[1] ‘Thou canst not see my face: for there shall no man see me, and live.’ Another verse seems, moreover, to extend to all creatures the impossibility of seeing the Face of God, as the Prophet of the Banu Isra’il was informed: lâ tudrikuhu ‘l-absâr wa huwa yudriku ‘l-absâr, ‘The looks do not reach Him but it is He who reaches the looks’ (Q. 6:103).

Continue reading »

The Classical Islamic Arguments for the Existence of God

January 20th, 2009  Tagged , , , , ,

Majid Fakhry

(The Muslim world 47:1957, pp. 133-145.)

After Wensinck’s brilliant study,[1] a fresh examination of the argument for the existence of God in Islam might appear impertinent. Some justification for the present discussion, however, may be found in the fact that some of the material on which this study is based was not available to Wensinck, when his monograph appeared in 1936, and in the slightly different interpretation of certain relevant data here attempted.

The systematic examination of the proofs of the existence of God should be preceded by a legitimate enquiry: Is the demonstration of God’s existence possible at all? In the Latin scholastic treatises of the Middle Ages, as for example in the Summa Theologica of St. Thomas Aquinas (d. 1274) this enquiry figures as the prelude to the demonstration of God’s existence proper. Although Wensinck has discussed some aspects of the problem of knowledge (erkenntnislehre) in his celebrated Muslim Creed,[2] he does not touch upon this particular aspect of the problem in his monograph, except incidentally, as, for example, in connection with Al-Ghazali’s attitude to the question of God’s existence.[3] But this question, it would seem, requires a fuller treatment than is accorded it in that parenthesis.

Continue reading »