Well Defined
Ketika seseorang mendefinisikan sesuatu, sebenarnya itu adalah mengkaitkan sesuatu yang didefinisikan dengan kenyataan lainnya yang dianggap memiliki kesesuaian dengan yang ada pada yang didefinisikan. Tidak mungkin anda mendefinisikan (menjelaskan) sesuatu dengan memakai alat bantu (bahasa atau sistem simbolik lainnya) yang sekecil berapa persenpun tidak ada kesesuaian dengan yang didefinisikan.
Lalu adakah definisi yang baik ? Tentu ada, tetapi tidak ada definisi yang tepat. Ini bukan berarti tidak ada sama sekali definisi yang dianggap layak (berdasarkan kaidah-kaidah pendefinisian), melainkan hanya menegaskan jangkauan dari definisi yang dianggap layak. Dengan pengertian bahwa ada definisi yang baik, dan kalaupun ada definisi yang tepat … itu adalah merupakan definisi yang konsisten dalam jangkauan tertentu tetapi tidak menyeluruh.
Dan memang tidak ada definisi yang sedemikian lengkap kecuali jika elemen-elemen pembentuk definisinya telah dengan jelas kebenarannya bertahan setelah dipertentangkan dengan segala elemen kenyataan yang ada.
Sebagai contoh demikian: untuk menjelaskan bahwa sebuah lingkaran dalam jangkauan tertentu adalah sesuatu yang dapat dijelaskan dengan suatu rumusan yang terkait dengan rumusan tentang lingkaran, bukanlah merupakan pendefinisian yang lengkap (yang tepat).
Contoh lain lagi: mendefinisikan “sejumlah empat potong kue” sebagai “sejumlah dua potong kue” ditambah “sejumlah dua potong kue” bukanlah suatu pendefinisian yang tepat. Pendefinisian yang mendekati tepat terhadap hal ini adalah, “sejumlah empat potong kue” adalah “bukan sejumlah lima potong kue”, “bukan sepuluh potong kue”, “bukan pula suatu tanaman”, “bukan pula suatu jenis minuman”, “bukan pula sejumlah empat dari kenyataan planet yang ada di tata surya”, dan seterusnya dipertentangkan dengan kenyataan yang ada di semesta ini. Ini adalah demi mencapai pendefinisian yang tepat. Dapatkah ini tercapai, tentu tidak !
Lalu mengapa kita menganggap mampu mendefinisikan dan dianggap ada definisi yang layak . Hal itu adalah karena kebutuhan kita memperjelas sesuatu masih dirasa kurang dan perlu untuk memperjelas sesuatu tersebut dengan mengkaitkannya kepada hal lain yang dianggap cukup populer secara personal (baca: logic & make sense) maka muncullah penjelasan (pendefinisian).
Ini semua menegaskan bahwa sebenarnya kegiatan pendefinisian selalu merupakan kegiatan mempersempit (disadari atau tidak) batasan tentang sesuatu (karena ketidakmampuan kita menguji ketahanan elemen-elemen yang menjadi bagian dari yang didefinisikan dalam pertentangannya dengan keseluruhan keberadaan lainnya).
Jadi jika kita menganggap bahwa suatu definisi sangat tidak lengkap atau dituduh mempersempit sesuatu kebenaran, adalah memang benar demikian. Bahkan ketika anda pun merasa definisi telah sedemikian lengkap, padahal sebenarnya hal itu tidak mungkin. Ini bukan berarti kita telah terlibat di dalam suatu kegiatan yang salah (dalam hal ini kegiatan mendefinisikan yang dianggap tidak layak).
Jika memang demikian, bagaimana seharusnya (paling mendekati tepat) menyikapi kegiatan mendefinisikan sesuatu ? Yaitu mendefinisikan adalah sebagai suatu kegiatan yang membimbing seseorang kepada sesuatu, dengan tetap tidak dapat dilepaskan dari mempersempit suatu kebenaran. Artinya, mendefinisikan adalah meletakkan (mengarahkan) kesadaran kita kepada kenyataan lainnya yang bersesuaian (dalam beberapa cara tertentu) dengan apa yang didefinisikan, sebagai titik awal kesadaran yang menunjukkan perkembangan pemahaman kita pada saat itu (di saat sedang mendefinisikan). Oleh karena itu kegiatan mendefinisikan adalah kegiatan memahami sesuatu pada titik tertentu dan dikemudian hari (boleh jadi) menjadi lebih luas lagi pemahamannya (perluasan kesadaran).
Definisi sesuatu tidaklah tetap melainkan dinamis yang merupakan perluasan kesadaran, tetapi bukan berarti inkonsisten. Definisi haruslah konsisten dan kalau perlu (bisa) berkembang. Sebagai contoh anda menjelaskan bahwa “sesuatu itu adalah kendaraan beroda empat”. Penyempitan (pembatasan) pengertian ini dapat diterima dan dikemudian hari boleh jadi dapat berkembang menjadi “sesuatu itu adalah kendaraan beroda empat yang dapat dibebani oleh beban dalam jumlah tertentu”. Tetapi tidak benar jika dikemudian hari dinyatakan sebagai “sesuatu itu adalah kendaraan beroda dua” (padahal rodanya masih empat seperti ketika pertama kali mendefinisikan). Ada inkonsistensi disini, dan bukan merupakan pendefinisian yang baik. Tetapi jika kaidah-kaidah pendefinisian yang benar telah diikuti maka jangan sampai men-tidak-layakkan suatu definisi hanya karena suatu definisi tidak “well defined” (tidak lengkap), karena hal itu (ketepatan well defined) mustahil dicapai bagi kita
Mendefinisikan (walaupun pada akhirnya mempersempit batasan tentang sesuatu kebenaran) adalah kegiatan yang secara konsisten seharusnya memperluas kesadaran kita. Melalui pemahaman terhadap pendefinisian seperti ini serta menyikapi pendefinisian seperti ini akan menghantarkan kita kepada perluasan kebaikan (apapun bentuknya yang paling sesuai bagi kita) dan menjauhkan kita dari mengkaitkan suatu definisi dengan sesuatu yang dianggap sebagai kurang berkualitas. Singkatnya: definisi apapun itu sejauh telah memadai maka adalah merupakan definisi yang berkualitas, karena definisi seharusnya memang tidak statis melainkan berkembang secara konsisten dengan lebih mencerahkan (memperluas) kesadaran siapapun yang merasa sedang mendefinisikan sesuatu (baik beberapa saat sesudah mendefinisikan atau di kemudian hari).
Maka, adakah well defined ? Jawabnya ada (seminim apapun pembatasan yang disadari sebagai konsekuensi dari pendefinisian itu yang merupakan suatu kebenaran tertentu), karena seharusnya baiknya pendefinisian bukanlah dilihat dari tidak sempitnya elemen-elemen definisi (karena hal ini tidak bisa dihindari) tetapi dari seberapa konsisten suatu pendefinisian serta bagaimana penerimaan kita terhadap perluasan yang ditimbulkan oleh suatu definisi tertentu (dengan tidak mengabaikan persyaratan pendefinisian yang baik lainnya). Jadi, biarkanlah elemen-elemen definisi berkembang sebagai sarana perluasan kesadaran anda, sedangkan konsistensi yang terkandung dari suatu definisi dijadikan sebagai dasar kebenaran dari suatu definisi.
Philosophy |Leave a Reply
