Synchronization … Atheism & Religions


Sejauh pengetahuan saya ada empat agama yang diakui yaitu Islam, Kristen/Katolik, Hindu & Budha, atau boleh juga dianggap ada agama-agama lainnya sejauh pengukuhan tersebut juga menegaskan keberadaan Tuhan.

Agama-agama ini dalam perbincangannya dengan kaum ateis cenderung berada pada posisi bertahan (atau mungkin tidak) membela Tuhan dengan definisi Tuhannya masing-masing. Ini bukan masalah sejauh dikembalikan kepada agama masing-masing (saling menghargai). Sedangkan kaum ateis cenderung menolak definisi dari masing-masing agama tentang Tuhan.

Bukankah sekarang saatnya kita berusaha balik bertanya …

Pertanyaan ini ditujukan dari kami kepada anda (yang untuk sementara merasa sebagai kaum ateis). Seandainya anda tidak mengakui keberadaan Tuhan yang dianut oleh agama-agama atau bahkan kepercayaan-kepercayaan terhadap keberadaan Tuhan, maka:

1. Dapatkah anda menegaskan bahwa sesuatu itu tidak ada ?

2. Sampai seberapa jauh piranti yang anda pakai (untuk memastikan sesuatu adalah tidak ada) terlibat dalam kehidupan sehari-hari anda atau orang lain ?

3. Apakah seseorang yang tidur dikatakan kesadaran dirinya masih ada atau tidak ada ?

4. Yakinkah anda bahwa ketika berbicara dengan seseorang melalui telepon, memang benar bahwa lawan bicara anda memang ada dan bukannya tiada ?

5. Jika teman anda, keluarga anda atau siapapun yang anda kenal dan baru saja (terakhir kali) anda ketahui telah terbangun dari tidur dan beraktifitas, yakinkah anda bahwa boleh jadi kesadaran seseorang yang baru bangun tidur tadi adalah bukan lagi dari teman anda ?

Boleh jadi anda bukan a-teis ?

masih berlanjut, …

6. Pernahkah anda memberikan kepercayaan tanggung-jawab sebesar atau sekecil apapun kepada seseorang ?

7. Kalaupun anda menegaskan ke-tidak-MahaKuasa-an Tuhan dan ke-tidak-MahaKasih-an Tuhan, ini sama saja dengan menyatakan, saya mengamati dengan cara tertentu bahwa: “Tuhan Maha Kuasa dan atau Tuhan Maka Kasih adalah tidak benar”. Lalu dengan cara bagaimana pengamatan tersebut anda lakukan ? Dengan menghitung banyaknya peristiwa yang dapat dianggap mencerminkan ke-tidak-MahaKuasa-an dan atau ke-tidak-MahaKasih-an Tuhan ? Lalu apakah semua peristiwa sudah anda hitung, sehingga memastikan prosentase kebenaran pernyataan anda ? Kalau sudah, anda hitung menggunakan apa (survey yang anda lakukan) ?

Boleh jadi anda bukan a-teis ?

masih berlanjut , …

8. Pernahkah anda mengimani sesuatu apapun itu ? Apa yang menyampaikan kepada iman anda ?

9. Manakah yang sering anda pakai dalam kehidupan, logika atau perasaan ?

10. Yakinkah anda bahwa jumlah sebesar 1 trilyun yang dilipatkan jumlahnya menjadi 1 trilyun kali lipat adalah lebih besar dari jumlah sebesar satu ?

Boleh jadi anda bukan a-teis & bukan pula teis, melainkan sedang dalam keraguan ?

Home




3 Responses to “Synchronization … Atheism & Religions”

  1.   Manor on April 22, 2009 7:50 pm

    1. Tidak, seperti w tidak mampu menegaskan tidak adanya dewa olympus, alien & roro kidul. 2. Pengindraan di rasa yg di cerna oleh otak. 3.tidur masih ada, mati tidak ada. 4.kalau dia menjawab/bertanya sesuai topik pembicaraan. 5.? G tau maksudna. 6. Pernah. 7. Apakah tuhan tdk kuasa atau tidak kasihan dengan krisis habitatnya paus biru misalnya. 8.ya, ketidak tahuan. Lebih sering logika. (sory pake hp neh)

  2.   seremonia [to Manor] on April 24, 2009 2:12 pm

    Tanggapan bagi anda akan dijawab seringkas mungkin dan berharap membentuk saling pemahaman atau bahkan memancing kita kepada perluasan kesadaran lebih lanjut.

  3.   seremonia [to Manor] on April 24, 2009 4:37 pm

    1. Jika seseorang telah meyakini sesuatu itu ada/tiada tentu ia menegaskannya. Dan anda menjawab dengan jujur bahwa pada beberapa hal anda tidak mampu menegaskan bahwa sesuatu itu tidak ada

    2. Otak mencerna sesuatu sedangkan struktur otak tidak lebih dari keterkaitan sel-sel pembentuk otak ? Maksudnya kapasitas otak demikian pada akhirnya mewarisi batasan kepada kita untuk mencerna dengan membentuk hubungan-hubungan serta penelusuran dan perbandingan. Atau bahkan kalaupun kita meniadakan otak sebagai sarana berpikir, adakah cara lain selain dari memperbandingkan untuk mencapai pemahaman ? Tentu ada, dan itupun juga memiliki konsekuensinya sebagaimana yang dijelaskan pada salah satu dari no. pembahasan di artikel ini juga.

    3. Seseorang meyakini kesadarannya masih ada ketika tertidur berdasarkan pengalaman pribadi, sedangkan meyakini bahwa orang lain yang tertidur juga masih memiliki kesadaran adalah sebagai akibat memperbandingkan dengan pengalaman yang telah ada.

    4. Telah terjawab oleh no. 3
    5. Yakinkah anda bahwa memang seseorang sebagaimana yang anda kenal setelah bangun dari tidur masih merupakan satu bagian tubuh dengan kesadaran yang sama ketika belum tertidur ? Bukan tidak mungkin setelah bangun tidur memiliki kesadaran lain yang merupakan tiruan ? Bukankah anda melakukan perbandingan juga sebagaimana yang diisyaratkan di no. 3 & no. 4 ?

    6. Jika belum pernah maka anda di luar dari pembahasan artikel ini, dan kalau pernah memberikan tanggung-jawab kepada orang lain, maka apakah ia yang diberi tanggung-jawab harus melaksananakan tanggung-jawabnya dalam pengawasan anda ? Jika dijawab harus dalam pengawasan anda, tentu hal itu tidak harus selalu ! Atau jika harus selalu demikian, maka akan banyak kenyataan yang dapat sedemikian mudah ditujukan kepada anda sebagai pihak yang kontradiktif atau inkonsisten. Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu tidak pernah dapat mengawasi (dengan pengamatan langsung - jarak dekat - dan empiris sesempurna mungkin) terhadap siapapun .

    7. Disini kita menganggap anda berusaha mempercayai keberadaan Tuhan dengan beberapa syarat atas keabsahan kekuasaan Tuhan. Ketika anda mengeluhkan tentang Tuhan atas tindakan yang tidak dilakukan terhadap sesuatu permasalahan (menurut anda), menunjukkan beberapa konsekuensi yaitu:

    i. Kekuasaan nampak melalui kuasa merubah dan atau penetapan (kuasa menjaga) yang dilandasi oleh kehendak, dan jika dinyatakan ketidak-kuasaan Tuhan sebagai ketidakmampuannya merubah dan atau menjaga sesuatu, itupun juga tidak serta merta meniadakan keberadaan Tuhan atau juga tidak serta merta mengadakan keberadaan Tuhan.

    ii. Kekuasaan nampak melalui kuasa merubah dan atau penetapan (kuasa menjaga) yang dilandasi oleh kehendak. Bagaimana anda yakin Tuhan tidak kuasa merubah (sebagai bukti ketidak-kuasaan-Nya) sedangkan anda juga tidak yakin akan kuasanya dalam menjaga sesuatu ? Juga , bagaimana anda yakin Tuhan tidak kuasa menjaga (sebagai bukti ketidak-kuasaan-Nya) sedangkan anda juga tidak yakin akan kuasanya dalam merubah sesuatu ?

    Lalu apakah Tuhan telah salah mengucapkan tentang diri-Nya atau telah membohongi kita ? (Mungkin itu menurut anggapan anda ?) Maka penjelasan yang paling mendekati (sesuai) adalah: kalau seseorang membuktikan kebenaran Tuhan telah dimulai dari arah yang salah (tidak relevan) bagaimana mungkin berlanjut dengan memberikan keabsahan pernyataannya bahwa Tuhan telah berbohong ?

    Mengenai sampai seberapa jauh sesuatu layak dikasihani, maka pertanyaan balik yang mendekati sesuai adalah: sampai seberapa jauh pemahaman kita tentang prioritas ? Sudahkah kita telah sedemikian ahli menentukan prioritas ? Kalaupun kita telah menganggap sempurna dalam mengetahui prioritas yang terbaik, tentu kita juga sedemikian sempurna menerima segala sesuatu tanpa sedih. Sudahkah kita demikian ? Saya pribadi pun belum dan tidak akan pernah mencapai hal demikian.

    8 - 10. Kita dapat mengimani sesuatu karena beberapa sebab, seperti ketidaktahuan yang memicu proses menuju pengetahuan, atau melalui pengalaman langsung yang memperjelas sesuatu yang diakhiri dengan mengimaninya. Ketidak-tahuan yang berhenti sebatas keadaan tidak-tahu sangat sulit menghantarkan kepada pengetahuan, sejauh ketidak-tahuan sebagai keadaan tidak fokusnya kepada sesuatu yang telah diketahui oleh orang lain (kecuali ada pemicu dari pihak lain yang menggiring kepada usaha untuk mengetahui - menyadari) , dan sejauh ketidak-tahuan yang tidak ada kebutuhan untuk merubahnya menjadi mengetahui (menyadari) keberadaan sesuatu. Untuk segala hal demikian membutuhkan proses berpikir yang memadai, paling tidak telah merasa sanggup membantah sesuatu (entah bantahan yang benar atau kurang benar). Karena mustahil mengharapkan seorang bayi (dalam pengertian kebanyakan - umum) atau anggaplah siapapun yang memiliki hasrat sedemikian kecil untuk memperdebatkan keberadaan Tuhan, dapat diharapkan menggapai kebenaran keberadaan Tuhan (kecuali dalam kasus khusus dimana percaya tanpa membantah menghantarkannya kepada keadaan sedemikian rupa yang membuat seseorang meyakini keberadaan Tuhan, tetapi ini di luar pembahasan artikel ini, karena disini cenderung pembuktian menggunakan logika).

    Maka, pernahkah anda mengalami secara langsung akan bukti ketiadaan Tuhan ? Sudahkah anda menjelajahi seluruh jagad untuk memastikan ketiadaan Tuhan ? Dan seberapa perlunya hal demikian itu ? Penjelajahan demikian adalah diharuskan bagi yang mengutamakan bukti empiris, karena bagaimana anda yakin ketiadaan Tuhan, karena boleh jadi Dia ada di sudut tertentu di salah satu bagian dari jagad ini ? Lagi pula bagaimanapula anda memastikan bahwa Tuhan melingkupi seluruh jagad ? Sampai seberapa jauh kemampuan anda menjelajahi seluruh luasnya keberadaan yang ada ?

    Maksudnya adalah, benarkah sikap demikian memang sering kita lakukan di dalam kehidupan sehari-hari demi mencari kebenaran sekecil atau sebesar apapun, bahkan sekedar untuk membuktikan jumlah dari sesuatu ?

    Perbincangan ini semoga dapat menyadarkan kita pula bahwa terkadang kita terlalu menuntut terhadap diri kita sendiri sesuatu cara (solusi) yang sedemikian dianggap terbaik tentang permasalahan ada/tidaknya Tuhan, sedangkan kita sendiri sering mengabsahkan kebenaran realita tertentu mulai dari yang dianggap biasa sampai yang dianggap sedemikian gawat (penting) dengan standarisasi yang boleh jadi jauh lebih sederhana dari apa yang kita harapkan ketika berhadapan dengan pembuktian ada/tidak adanya Tuhan.

    Boleh jadi seseorang bukan atheis dan bukan pula teis, tetapi terjebak di dalam keraguan dalam menentukan jalan, metode atau proses yang paling sesuai bagi masing-masing pribadi untuk membuktikan ada/tiadanya keberadaan Tuhan. Atau kalau telah menemukan jalannya, boleh jadi masih sedikit membutuhkan penyempurnaan sampai tahap tertentu (sebagaimana kita - termasuk saya dalam segala kehidupan sehari-hari). Ini membutuhkan bimbingan, kesabaran dan upaya tak kenal lelah sampai terjawab apa yang perlu dijawab dan disadari apa yang tidak perlu diketahui.

    Ini adalah penjelasan sejauh kemampuan pemahaman saya. Sudah seharusnya ini dapat berkembang lebih baik lagi. Semoga anda jelas. Terima-kasih atas kejujuran anda dalam berkomentar.

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image